Washington – Dalam satu kalimat yang diucapkan santai kepada wartawan CNBC, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berhasil mengguncang pasar energi global. Pernyataan bahwa ia “tidak peduli” jika perundingan damai dengan Iran berakhir tanpa kesepakatan itu muncul pada saat yang paling kritis ketika Iran baru saja mengumumkan penghentian dialog dan Selat Hormuz kembali terancam diblokade total.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara telepon dengan Eamon Javers dari CNBC pada Senin siang (1/6/2026) waktu setempat. Pernyataan itu muncul setelah adanya laporan bahwa Iran akan menghentikan pembicaraan dengan AS dan mengancam akan menutup total Selat Hormuz.
“Saya benar-benar tidak peduli. Saya sangat tidak peduli,” ujar Trump saat ditanya apakah negosiasi damai tersebut telah berakhir.
“Jika negosiasi itu berakhir ya sudah berakhir. Terus terang menurut saya negosiasi itu mulai menjadi sangat membosankan,” tambah Trump.
Trump mengaku belum mendapatkan konfirmasi langsung dari pihak Iran mengenai penghentian dialog tersebut.
Pasar tidak menunggu klarifikasi lebih lanjut. Respons datang dalam hitungan menit.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli melonjak lebih dari 5 persen dan menetap di level 92,16 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Adapun harga minyak mentah Brent sebagai patokan internasional naik lebih dari 4 persen dan berakhir pada posisi 94,98 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.
Lonjakan harga terjadi setelah media pemerintah Iran melaporkan Teheran menghentikan pembicaraan dengan AS sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Harga minyak sempat meroket hingga 8 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Ironisnya, Trump mengaku tidak khawatir dengan kenaikan harga energi tersebut dan bahkan memprediksi harga akan segera berbalik. “Saya pikir harga minyak akan turun drastis dalam waktu yang sangat dekat,” kata Trump.
Di balik sikap yang tampak acuh itu, Trump sesungguhnya mempertahankan postur militer yang keras. Trump kembali membuka peluang serangan tambahan jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan. “Kalau mereka tidak mau,” kata Trump sambil menunjuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth, “orang di sebelah kiri saya ini akan menghabisi mereka.”
Trump juga menegaskan pemerintahannya belum mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Iran. “Kami tidak membicarakan pelonggaran sanksi, tidak ada pemberian uang,” tegasnya.
Trump bahkan menepis spekulasi bahwa Iran bisa bermain waktu menunggu tekanan politik domestik AS melemah. “Mereka pikir bisa menunggu saya menyerah. Mereka berpikir, ‘Dia punya pemilu paruh waktu’,” kata Trump.
Pemicu langsung dari kemarahan Teheran adalah perluasan operasi militer Israel di Lebanon terhadap Hizbullah. Situasi ini memicu laporan bahwa Iran mempertimbangkan penghentian dialog dengan Washington sekaligus memperketat blokade di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Iran berargumen bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran seharusnya bersifat komprehensif mencakup seluruh medan termasuk Lebanon. Ketika Israel terus menggempur Hizbullah sementara AS diam, Tehran menganggap Washington telah melanggar semangat kesepakatan.
Yang membingungkan pasar dan para diplomat adalah inkonsistensi pesan dari Washington. Hanya berselang menit setelah wawancara CNBC yang bernada “tidak peduli” itu, Trump kembali memposting di Truth Social bahwa perundingan dengan Iran “terus berlanjut dengan cepat.” Kalimat yang sepenuhnya bertolak belakang dengan apa yang baru saja ia katakan kepada jurnalis.
Ambiguitas pernyataan Trump itu sendiri kini menjadi variabel risiko tersendiri bagi pasar energi global. Selama sinyal dari Washington tetap tidak konsisten, harga minyak akan terus bergerak liar merespons setiap kata yang keluar dari mulut sang presiden.
#TrumpIran #NegosiasIranAS #HargaMinyakNaik #SelasHormuz #TrumpCNBC #BrentCrude #WTIMinyak #PerangIran2026 #DiplomsiGagal #TrumpMembosankan #IranAncaman #MinyakDunia #PeteHegseth #SanksiIran #GencatanSenjataIran #KonflikTimurTengah #EnergiGlobal #TruthSocial #TrumpPernyataan #PasarEnergi2026






