Misi Rahasia di Wina — Soekarno Suruh Ajudannya Kencan Lalu Wajib Lapor Saat Sarapan

Fokus309 Dilihat

Jakarta – Di antara ribuan lembar sejarah diplomatik Indonesia, tersimpan satu kisah yang tidak pernah masuk buku pelajaran sekolah namun justru memperlihatkan sisi paling manusiawi dari Presiden pertama RI. Sebuah “penugasan khusus” yang diperintahkan Soekarno kepada ajudan kepercayaannya di sebuah kota Eropa pada 1963. Bukan misi militer. Bukan pula urusan kenegaraan. Melainkan perintah untuk pergi berkencan dan keesokan paginya wajib melapor hasilnya.

Pada 1963 Soekarno beserta rombongan bertolak menuju Wina, Austria. Tujuan kunjungan itu bukan urusan kenegaraan melainkan untuk menemui seorang profesor yang bisa mengobati penyakit batu ginjalnya.

Ikut dalam rombongan itu adalah Mayor Korps Komando Angkatan Laut Bambang Widjanarko perwira kelahiran Karanganyar, Kebumen, 9 September 1929, yang menjabat sebagai ajudan pribadi Presiden Soekarno sejak November 1960. Selama hampir delapan tahun, ke mana Soekarno pergi, di sana pula Bambang selalu hadir.

Suatu pagi di Wina, di tengah suasana santai sarapan bersama rombongan, Bung Karno tiba-tiba menatap Bambang dan melontarkan pertanyaan yang tidak terduga: sudahkah ajudannya itu mengunjungi klub malam di kota yang terkenal dengan musik klasik dan arsitektur mewahnya?

Bambang menggeleng. Belum.

Wajah Soekarno langsung berubah menjadi ekspresi tak percaya. Maka keluarlah “perintah presiden” yang paling tak lazim dalam sejarah protokoler Indonesia.

“Tapi ada syaratnya, Mbang: pertama kamu harus mencari partner seorang gadis lokal, gadis Austria. Kedua, besok pagi kamu harus menceritakan seluruh pengalamanmu di waktu makan pagi seperti ini,” kata Bung Karno, sebagaimana dituturkan ulang Bambang dalam autobiografinya Sewindu Dekat Bung Karno yang terbit tahun 1988.

Seluruh meja langsung meledak tertawa. Mereka tahu, presiden sedang menggoda ajudan kepercayaannya.

Candaan makin panjang ketika pengusaha Agus Dasaad ikut nimbrung dengan catatan tajam: uang Bambang pasti tidak cukup untuk menginjakkan kaki di nightclub Wina yang terkenal mahal.

Soekarno beranjak ke kamarnya dan kembali membawa uang lima puluh dollar untuk Bambang. Namun Dasaad langsung mematahkan antusiasme itu: jumlah sebesar itu hanya cukup untuk satu botol champagne saja. Dan bagaimana mungkin duduk sendirian menghabiskan sebotol champagne tanpa teman? Cerita keesokan paginya tentu jadi tidak menarik.

Soekarno pun menengok ke arah Dasaad yang diketahui kantongnya selalu tebal, dan memintanya menambah uang bekal sang ajudan.

Bambang pun benar-benar menjalankan perintah atasannya itu. Ia berkenalan dengan beberapa perempuan malam itu, ada yang berasal dari Yugoslavia, Italia, Yunani, dan Jerman. Namun yang paling membekas adalah sosok bernama Renata.

“Renata orangnya manis berambut pirang dan suka bergurau,” kenang Bambang.

Keduanya mengobrol akrab sepanjang malam dalam suasana hangat. Hingga di satu titik Renata menyebut bahwa ia lahir di tempat bernama “Clateen” di Jawa.

Bambang mengernyitkan dahi. Penasaran, ia terus mengulik. Sampai akhirnya sebuah pencerahan menggelitik: yang dimaksud Renata bukan lain adalah Klaten, Jawa Tengah.

“Jadi kamu adalah seorang gadis Belanda yang dilahirkan di Pulau Jawa. Itu termasuk Indonesia, negaraku dan kamu bukan lahir di Clateen tetapi Klaten di Jawa Tengah,” kata Bambang.

Keesokan paginya di meja sarapan, Bambang melaporkan “hasil misi”-nya kepada Bung Karno dan seluruh rombongan dengan wajah setengah malu.

“Pak, saya agak malu menceritakannya. Saya tidak dapat 100% memenuhi tugas Bapak yang diberikan.”

“Ayo ceritakan, Mbang! Kamu hanya bikin penasaran saja,” desak Soekarno.

Begitu Bambang menceritakan bahwa perempuan yang ditemuinya di Wina ternyata seorang noni Belanda kelahiran Klaten, tawa Soekarno meledak keras. Jauh-jauh terbang ke Austria untuk “kencan internasional” yang didapat justru perempuan yang lahir tak jauh dari tanah Jawa.

Bambang mendampingi Soekarno nyaris selama delapan tahun penuh. “Dari pengalaman saya selama berada di dekat Bung Karno, saya dapat mengatakan bahwa semua orang yang pernah bekerja secara langsung di bawah Bung Karno pasti mencintainya setulus hati. Hal ini terutama karena sikap Bung Karno yang hidup sederhana dan merakyat,” tulis Bambang.

Kesetiaan Bambang kepada Soekarno bahkan membuatnya menolak tiga kali kesempatan masuk Sekolah Staf Komando (Sesko) demi tetap mendampingi presiden sebuah pengorbanan karier militer yang luar biasa. Ia tetap setia berada di sisi Soekarno hingga akhir hayat sang proklamator.

Kisah kencan di Wina itu hanyalah satu dari sekian cerita yang memperlihatkan betapa Soekarno bukan sekadar pemimpin yang disegani ia juga manusia yang hangat, jenaka, dan mencintai orang-orang di sekelilingnya dengan cara yang paling sederhana.

#BungKarno #Soekarno #BambangWidjanarko #SewinduDekatBungKarno #AjudanPresiden #SejarahIndonesia #KisahLucu #WinaAustria #PresidentSukarno #TNIMarinir #HistoriaIndonesia #KisahSejarah #SoekarnoHumor #AjudanSoekarno #IndonesiaHistory #KencanDiWina #KlatanJawaTengah #NoniBelanda #SejarahMenarik #BungKarnoKisah