Trump Sebarkan Draf Perjanjian Iran, Tapi Rudal Tetap Melayang

Fokus, Internasional497 Dilihat

Washington DC – Dunia tengah berada di persimpangan yang paling menentukan sejak pecahnya konflik bersenjata Amerika Serikat–Iran pada Februari 2026. Di satu sisi, draf kesepakatan damai sudah beredar di tangan para sekutu Washington. Di sisi lain, rudal balistik Iran masih melesat ke arah Kuwait, dalam waktu yang hampir bersamaan. Inilah paradoks perang modern bernegosiasi sambil tetap saling menembak.

Konflik ini bermula dari operasi militer besar-besaran. Pada 28 Februari 2026, Presiden Trump mendeklarasikan “operasi tempur besar” terhadap Iran melalui serangan gabungan AS–Israel yang menghantam fasilitas militer, pemerintahan, dan infrastruktur strategis negara itu.

Setelah empat puluh hari pertempuran sengit, pada 8 April 2026, AS dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan. Iran menolak kerangka gencatan senjata dua fase selama 45 hari yang diajukan Pakistan, dan menggantinya dengan rencana perdamaian 10 poin versi Teheran sendiri. (Columbia Climate School) Gencatan senjata kemudian diperpanjang secara terbuka, namun diwarnai serangkaian pelanggaran dari kedua kubu.

Pada 28 Mei 2026, Trump secara resmi mengedarkan draf perjanjian kepada para sekutu, termasuk Israel, sebagai upaya mempercepat negosiasi dan mencegah pelanggaran gencatan senjata yang terus berulang dari menggagalkan seluruh proses diplomatik.

Isi draf tersebut sangat substansial. Proposal itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal niaga, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pemberian akses terhadap hingga 12 miliar dolar AS dalam aset beku Iran, serta pemulihan volume lalu lintas komersial melalui selat tersebut ke level sebelum perang dalam waktu 30 hari.

Kedua pihak akan menandatangani sebuah Memorandum of Understanding (MoU) yang berlaku 60 hari dan dapat diperpanjang atas kesepakatan bersama. Selama periode 60 hari tersebut, Selat Hormuz akan dibuka tanpa pungutan tol, Iran akan diizinkan menjual minyak secara bebas, dan perundingan tentang pembatasan program nuklir Iran akan dimulai.

Kesepakatan ini juga mensyaratkan Iran melepaskan ambisi senjata nuklir dan membuka diri terhadap pengawasan IAEA atas stok uranium yang dimilikinya.

Di balik optimisme para juru runding, kenyataan di lapangan jauh lebih rumit. Teheran menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan yang mungkin terwujud sebelum dana-dana yang telah disepakati benar-benar ditransfer. Iran bahkan menginginkan 12 miliar dolar AS diserahkan segera begitu perjanjian ditandatangani, dengan 12 miliar dolar AS tambahan disusul dalam 60 hari berikutnya.

Iran juga mengestimasi bahwa pencabutan sanksi atas penjualan minyak saja bisa menghasilkan hampir 10 miliar dolar AS bagi pemerintahannya selama periode 60 hari. Sementara itu, AS menegaskan bahwa sanksi hanya akan dicabut setelah Selat Hormuz benar-benar dibuka dan berfungsi normal kembali.

Sumber yang mengetahui jalannya negosiasi mengungkapkan kepada Jerusalem Post bahwa Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, belum menyetujui MoU 60 hari itu dan karena itulah Trump juga belum meneken kesepakatan tersebut.

Tepat di tengah upaya diplomatik tersebut, eskalasi militer tak berhenti. Iran meluncurkan rudal balistik ke arah pangkalan udara AS di Kuwait pada Kamis pagi, hanya beberapa jam setelah AS melancarkan serangan ke Iran. Masing-masing pihak saling menuduh pihak lain melanggar gencatan senjata.

Pasukan Kuwait berhasil mencegat rudal tersebut. Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam keras Iran atas apa yang disebutnya sebagai “agresi terang-terangan”, sementara US Central Command menyebut serangan itu sebagai “pelanggaran gencatan senjata yang keterlaluan” dan bersumpah akan terus mempertahankan mitra-mitra sekutunya.

Washington dan Teheran sebenarnya telah berulang kali saling menuduh melanggar gencatan senjata tujuh minggu itu, dan keduanya terus bertukar serangan sepanjang pekan ini, namun tidak kembali ke fase pertempuran skala penuh dan tetap melanjutkan perundingan.

Di tengah ketegangan yang mengepung proses negosiasi, Pakistan tampil sebagai aktor diplomatik kunci. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Muhammad Ishaq Dar pada Jumat di Washington, saat Pakistan terus memediasi pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran.

Sementara itu, Trump mengirimkan sinyal yang justru memperumit gambaran besar. Presiden Trump tampak menghubungkan kesepakatan damai dengan Iran kepada syarat normalisasi negara-negara Arab dengan Israel, dengan menghubungi para pemimpin Arab Teluk untuk bergabung dalam Abraham Accords. (Kompas) Saat Trump menyampaikan permintaan itu dalam sebuah panggilan konferensi, sumber AS menyebut “sempat terjadi keheningan di saluran telepon, dan Trump bercanda menanyakan apakah mereka masih mendengarkan.”

Soal nuklir tetap menjadi batu sandungan terbesar. Iran bersikeras mempertahankan hak pengayaan uranium, pencabutan seluruh sanksi ekonomi, penarikan pasukan AS dari kawasan, dan yang paling kontroversial pengakuan atas kendali Iran atas Selat Hormuz.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan, “Kami tidak berupaya memungut tol layanan navigasi dan perlindungan lingkungan Selat Hormuz tetap disediakan.” Iran secara implisit mensinyalkan bahwa meski lalu lintas komersial boleh kembali, ia tetap akan mempertahankan kendali lebih besar atas selat tersebut dibanding sebelum perang. “Kapal-kapal militer tidak termasuk dalam komitmen pembukaan selat ini,” tegas siaran IRIB.

Ketidakpastian ini bukan sekadar drama geopolitik. Harga minyak dunia melonjak pada 28 Mei, dengan minyak mentah Brent naik 0,75 persen ke level 95 dolar AS per barel dan kontrak berjangka West Texas Intermediate AS melonjak 1,29 dolar AS menjadi 89,97 dolar AS.

Selat Hormuz yang kini masih diblokade adalah urat nadi energi dunia sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur sempit ini setiap harinya. Setiap detik ketidakpastian di sana adalah biaya nyata yang dirasakan oleh jutaan rumah tangga di seluruh dunia dalam bentuk tagihan energi yang terus membengkak.

Para juru runding AS dan Iran percaya mereka telah mencapai draf kesepakatan yang bisa mendapat dukungan kedua negara. Namun, baik Trump maupun Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei belum memberikan persetujuan akhir artinya, secara teknis, belum ada kesepakatan apapun saat ini.

Sejarah mencatat keduanya pernah menolak kesepakatan di menit-menit terakhir sebelumnya. Dunia kini bergantung pada dua keputusan dari dua pemimpin yang keduanya dikenal tak mudah ditebak.

#PerangIran2026 #DrafDamaiIran #SelatHormuz #TrumpIranDeal #GencatanSenjataIran #KrisisTimurTengah #IranUSWar #HormuzCrisis #NuklirIran #PerdamaianTimurTengah #AbrahamAccords #PakistanMediator #GeopolitikGlobal #BeritaInternasional #IranWar2026