Rupiah Tumbang ke Level Paling Memalukan dalam Sejarah, Dollar Singapura Rp 14.000, Dollar AS Dekati Rp 17.900

Ekonomi, Fokus, Nasional309 Dilihat

Jakarta – Bukan sekadar angka di layar perdagangan. Ini adalah catatan hitam yang akan diingat dalam sejarah panjang mata uang Indonesia. Pada Jumat, 29 Mei 2026, rupiah mencetak dua rekor terburuk sekaligus dalam satu hari, sebuah tamparan keras bagi stabilitas ekonomi nasional yang tengah berjuang di tengah gejolak global yang tidak kunjung reda.

Tekanan ganda menimpa rupiah pada perdagangan Jumat pagi. Di hadapan dolar Amerika Serikat, rupiah bergerak mendekati Rp 17.900 per dolar AS posisi terlemah sepanjang sejarah Indonesia. Pada saat bersamaan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura menyentuh angka Rp 14.000 per SGD, sekali lagi menjadi rekor terlemah sepanjang masa.

Di pasar spot, rupiah terdepresiasi ke level Rp 17.893 per dolar AS, turun 48 poin atau 0,27 persen dari hari sebelumnya. Rupiah sempat menyentuh Rp 14.000 per dolar Singapura, namun tekanan berangsur mereda hingga berhasil memangkas pelemahannya ke posisi Rp 13.982 per dolar Singapura. Sepanjang perdagangan hari itu, dolar Singapura diperkirakan bergerak di kisaran Rp 13.932 hingga Rp 14.001.

Sejak awal 2026, rupiah sudah melemah sekitar 7,97 persen terhadap dolar Singapura. Pada akhir 2025, kurs SGD/IDR masih berada di level Rp 12.957,64 per SGD, artinya dalam waktu kurang dari enam bulan, rupiah telah kehilangan hampir delapan persen nilainya hanya terhadap mata uang Negeri Singa.

Tekanan tidak datang hanya dari satu arah. Rupiah juga semakin tak berdaya terhadap ringgit Malaysia. Pada pukul 09.47 WIB, rupiah melemah 1,01 persen terhadap ringgit, dengan kurs berada di Rp 4.502,95 per MYR, menembus level psikologis Rp 4.500 untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Level ini sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah terhadap ringgit Malaysia sepanjang sejarah. Sepanjang 2026, rupiah sudah melemah sekitar 9,91 persen terhadap ringgit, melampaui pelemahan terhadap dolar Singapura yang mencapai 7,97 persen. Bahkan dalam kurun waktu kurang dari 30 hari selama Mei saja, rupiah sudah terdepresiasi sekitar 3,68 persen terhadap ringgit Malaysia.

Yang membuat situasi ini semakin memprihatinkan adalah kontras yang sangat mencolok dengan mata uang kawasan lain. Sementara rupiah dan won Korea Selatan melemah paling tajam, masing-masing 0,51 persen dan 0,69 persen, mata uang lain di kawasan justru bergerak di zona hijau: baht Thailand, ringgit Malaysia, rupee India, dolar Taiwan, peso Filipina, yuan China, dan yuan offshore semuanya menguat terhadap dolar AS pada hari yang sama.

Divergensi ini bukan sekadar kebetulan statistik, ini adalah sinyal bahwa persoalan yang menimpa rupiah bersifat struktural dan domestik, bukan semata-mata imbas dari gejolak global.

Akar Masalah: Empat Tekanan yang Datang Bersamaan

  • Isu Fiskal yang Membayangi

Sorotan investor tertuju pada postur APBN 2026, di mana anggaran untuk pembayaran bunga utang melonjak signifikan hingga hampir menyentuh angka Rp 600 triliun. Besarnya porsi ini memicu kekhawatiran mengenai ruang fiskal pemerintah yang semakin sempit untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah menargetkan batas atas defisit APBN 2026 mencapai 2,68 persen terhadap PDB. Para ekonom mengingatkan bahwa penyesuaian harga BBM berpotensi semakin melemahkan daya beli masyarakat, sehingga pemerintah didorong untuk melakukan efisiensi belanja dan realokasi anggaran.

  • Peringkat Kredit yang Terancam Turun

Lembaga pemeringkat internasional Fitch pada Maret 2026 menurunkan outlook kredit berdaulat Indonesia dari “stabil” menjadi “negatif,” dengan alasan meningkatnya ketidakpastian dan melemahnya kredibilitas pembuatan kebijakan. Direktur Fitch George Xu menyatakan bahwa jika pemerintah terus menjalankan defisit APBN yang lebih tinggi dalam jangka panjang, ini akan menyebabkan memburuknya fundamental kredit dan memicu penurunan peringkat.

  • Gejolak Geopolitik Timur Tengah

Konflik AS-Iran yang memanas sejak Februari 2026 terus mengganggu pasokan energi global melalui Selat Hormuz. Gagalnya negosiasi damai yang berulang kali terjadi meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan mendorong investor global berpindah ke aset-aset yang dianggap lebih aman.

  • Divergensi Kekuatan Ekonomi Regional

Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai publik selama ini terlalu fokus pada pergerakan dolar AS, padahal penguatan dolar Singapura terus mencetak rekor baru yang mengkhawatirkan. “Fenomena ini membuktikan bahwa masalah yang dihadapi rupiah bukan sekadar soal dominasi global AS, melainkan adanya divergensi kekuatan ekonomi yang nyata di level regional,” ujar Rahma.

Penguatan ringgit terhadap rupiah tidak lepas dari kondisi neraca perdagangan Malaysia yang masih cukup sehat. Total perdagangan Malaysia pada Maret 2026 tumbuh 9,3 persen secara tahunan menjadi MYR 273,0 miliar.

Angka-angka di layar bursa bukan sekadar data abstrak. Ada jutaan rakyat yang merasakannya langsung di kehidupan sehari-hari.

Lonjakan mata uang Negeri Singa diprediksi membawa dampak signifikan bagi masyarakat Indonesia karena mengerek biaya pendidikan, kesehatan, hingga perjalanan ke Singapura.

Situasi ini berpotensi menaikkan biaya transportasi umum, biaya layanan kesehatan, dan harga obat-obatan di apotek yang menjadi beban signifikan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Pelemahan nilai tukar juga menyebabkan tekanan berat terhadap struktur APBN: beban subsidi energi melonjak karena biaya impor minyak mentah menjadi jauh lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah, sementara pokok dan bunga utang luar negeri dalam rupiah ikut membengkak secara otomatis.

Para analis memproyeksikan pergerakan rupiah dalam waktu dekat akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi AS, khususnya Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) yang akan membentuk ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed. Selain itu, dinamika geopolitik global dan pergerakan harga energi juga menjadi faktor kunci yang dapat memicu perubahan sentimen pasar dan volatilitas rupiah lebih lanjut.

Kombinasi tekanan fiskal domestik, sentimen investor yang masih negatif terhadap Indonesia, dan ketidakpastian geopolitik global menjadikan rupiah sebagai mata uang yang paling rentan di kawasan saat ini. Tanpa perbaikan kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter yang terasa nyata oleh pasar, angka Rp 18.000 per dolar AS bukan lagi sekadar skenario terburuk, ia bisa menjadi kenyataan yang lebih dekat dari yang dibayangkan.

#RupiahMelemah

#RupiahRekorTermah

#DolarSingapura14000

#NilaiTukarRupiah

#KursMataUang