Jakarta — Dunia sekali lagi diguncang oleh laporan kekejaman di luar batas kemanusiaan. Misi perdamaian yang bertujuan untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat di Jalur Gaza secara tragis berubah menjadi mimpi buruk bagi para pesertanya. Setidaknya 15 relawan kemanusiaan dari Armada Sumud Global melaporkan mengalami pelecehan seksual berat—termasuk pemerkosaan—selama penahanan ilegal mereka oleh pasukan militer Israel.
Tragedi dimulai ketika armada sipil yang terdiri dari 50 kapal dicegat secara ilegal oleh pasukan Israel di perairan internasional beberapa hari yang lalu. Menurut laporan yang dirilis pada Jumat (22/5/2026), pasukan Tel Aviv secara sepihak menyita dan menculik setidaknya 430 relawan dari berbagai negara yang berada di atas kapal. Setelah melalui proses negosiasi dan akhirnya dibebaskan, kondisi para aktivis sangat mengkhawatirkan.
Penyelenggara Armada Sumud Global mengkonfirmasi bahwa beberapa relawan harus dilarikan ke rumah sakit karena cedera fisik dan trauma psikologis yang parah setelah penahanan mereka.
Para penyelenggara, melalui saluran Telegram resmi mereka, mengungkap kebrutalan yang terjadi di balik sel-sel penahanan Israel. Laporan tersebut merinci berbagai bentuk penyiksaan fisik dan psikologis yang tidak manusiawi.
“Setidaknya ada 15 kasus penyerangan seksual, termasuk pemerkosaan.
Para korban juga ditembak dengan peluru karet dari jarak yang sangat dekat, menyebabkan puluhan relawan menderita patah tulang,” demikian pernyataan resmi dari penyelenggara.
Kesaksian yang memilukan juga muncul dari Luca Poggi, seorang ekonom Italia yang berpartisipasi dalam misi kemanusiaan tersebut.
Berbicara kepada sebuah kantor berita internasional, Poggi menjelaskan secara detail bagaimana martabat mereka diinjak-injak oleh tentara Israel.
“Pakaian kami dilepas secara paksa, membuat kami telanjang.
Kami dilempar ke tanah dan ditendang tanpa ampun. Banyak rekan kami disiksa menggunakan alat kejut listrik. Beberapa mengalami pelecehan seksual yang merendahkan, dan hak kami untuk mendapatkan perwakilan hukum sepenuhnya ditolak,” Poggi menceritakan teror yang mereka hadapi.
Meskipun mengalami penderitaan yang luar biasa, para aktivis dari Flotilla telah mengubah insiden ini menjadi pengingat yang kuat bagi komunitas internasional tentang kenyataan pahit yang dihadapi warga sipil Palestina setiap hari.
“Meskipun perhatian dunia kini terfokus pada penderitaan yang dialami para peserta kami, kami ingin menyatakan dengan jelas bahwa ini hanyalah sebagian kecil dari kebrutalan sistematis yang dilakukan Israel setiap hari terhadap sandera Palestina,” tegas para penyelenggara.
Sebagai tanggapan atas pelanggaran serius terhadap hak-hak warganya, otoritas hukum Eropa kini mengambil tindakan.
Jaksa Italia dilaporkan telah mengambil alih dan secara resmi meluncurkan penyelidikan yudisial atas insiden tersebut. Penyelidikan akan memeriksa dugaan kejahatan internasional, termasuk penahanan ilegal di perairan netral, penyiksaan yang direncanakan, dan kekerasan seksual.
Skandal ini diperkirakan akan semakin menambah daftar tekanan diplomatik dan hukum internasional terhadap Israel atas dugaan kejahatan perang yang terus mereka lakukan.
Dunia kini menunggu untuk melihat apakah akan ada sanksi nyata terhadap mereka yang bertanggung jawab atas tindakan kekerasan kemanusiaan ini.












