Jakarta – Pemerintah Thailand mendesak Iran memberikan izin navigasi yang aman kepada delapan kapal dagang yang saat ini masih tertahan di sekitar Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Permintaan ini disampaikan setelah situasi keamanan di jalur pelayaran strategis kembali memanas menyusul konflik berkepanjangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya.
Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan delapan kapal yang dimaksud membawa kepentingan perdagangan dan logistik internasional, termasuk pengangkutan energi dan barang industri. Bangkok meminta kapal-kapal tersebut dapat berlayar dengan lancar melalui Teluk Persia tanpa ada hambatan atau masalah keamanan dari siapa pun di wilayah tersebut
Berita internasional baru-baru ini menyebutkan bahwa Selat Hormuz cukup tegang, dan banyak perusahaan pelayaran serta penjual minyak mengurangi pengiriman mereka ke sana. Beberapa kapal tanker memutuskan untuk mengambil rute berbeda untuk menghindari risiko keamanan karena meningkatnya kehadiran militer dan patroli bersenjata di wilayah-wilayah utama ini.
Selat Hormuz sangat penting bagi pelayaran global karena merupakan jalur utama minyak dan gas Timur Tengah menuju Asia, Eropa, dan tempat-tempat lain. Sekitar seperempat perdagangan minyak global diketahui melewati jalur sempit tersebut setiap tahunnya. Gangguan di sini dapat menyebabkan biaya energi melonjak di seluruh dunia dan mengganggu arus barang melintasi perbatasan
Gejolak yang baru-baru ini terjadi di Selat Hormuz dipicu oleh memburuknya hubungan Iran dengan AS dan Israel. Akhir-akhir ini, tempat ini telah berubah menjadi daerah yang ramai karena meningkatnya bahaya, perlengkapan militer, dan batasan pengiriman yang ditetapkan oleh berbagai kelompok. Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa kapal-kapal asing tidak akan dapat berlayar melalui daerah tersebut tanpa pembatasan selama konflik.
Sejumlah negara Asia, seperti Thailand, meningkatkan pembicaraan dengan Iran untuk menjaga keamanan jalur perdagangan mereka. Pemerintah Thailand mengakui kekhawatirannya bahwa penahanan atau penundaan pengiriman kapal dagang dapat berdampak pada distribusi energi dan stabilitas ekonomi di kawasan Asia Tenggara, yang sangat bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah.
Selain Thailand, sejumlah negara lain kini terus mewaspadai apa yang terjadi di selat Hormuz Shipping Group dan perusahaan asuransi tampaknya menaikkan harga untuk mengasuransikan kapal yang berlayar melalui zona tersebut karena risiko konflik dan masalah keamanan.
Para analis berpendapat bahwa ketidakstabilan yang terjadi di Selat Hormuz dapat secara serius mengguncang perekonomian dunia jika hal ini terus terjadi dalam jangka panjang. Banyak negara mulai khawatir terhadap risiko-risiko seperti naiknya harga minyak mentah, distribusi LNG yang kacau, dan biaya pengiriman barang ke seluruh dunia yang juga meningkat. Negara-negara Asia yang bergantung pada energi Timur Tengah dianggap sebagai kelompok yang paling berisiko.
Sejauh ini, kita tidak bisa memastikan kapan kedelapan kapal tersebut dapat terus berlayar. Iran belum memberikan pernyataan resmi mengenai permintaan Thailand. Namun berbagai kelompok berharap bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali normal untuk menghentikan kekacauan yang lebih besar pada perdagangan global.











