Media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah video viral yang mengaitkan bencana banjir bandang di Kota Sibolga dengan narasi mistik. Dalam unggahan tersebut, banjir disebut sebagai “azab” atas dugaan penganiayaan terhadap seorang pemuda bernama Arjuna Tamaraya (21) yang meninggal dunia setelah tidur di Masjid Agung Sibolga pada akhir Oktober 2025.
Narasi emosional itu dengan cepat menyebar dan mengklaim peristiwa tersebut menjadi penyebab Kota Sibolga dilanda banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025. Namun, klaim tersebut dipastikan tidak benar.
Hasil penelusuran cek fakta menyatakan bahwa penyebutan bencana sebagai azab adalah hoaks. Melansir laporan cekfakta.tempo.co, Rabu (24/12/2025), banjir bandang dan longsor di Sibolga terjadi akibat faktor alam dan kerusakan lingkungan, bukan peristiwa penganiayaan sebagaimana yang beredar di media sosial.
Terdapat dua faktor utama yang memicu bencana di Kota Sibolga. Faktor pertama adalah cuaca ekstrem yang dipengaruhi siklon tropis Senyar. Siklon ini melanda wilayah Sumatra bagian utara dan Selat Malaka pada akhir November 2025, memicu hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam waktu singkat.
Faktor kedua berkaitan dengan kerusakan lingkungan, khususnya terganggunya ekosistem Batang Toru yang selama ini menjadi sistem penyangga kehidupan di kawasan tersebut. Ketika curah hujan ekstrem terjadi, daya tampung lingkungan yang sudah melemah tidak mampu lagi menahan limpasan air.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Provinsi Sumatra Utara, Rianda Purba, menegaskan bahwa ekosistem Batang Toru mengalami tekanan serius akibat perubahan tutupan hutan dalam skala besar. Deforestasi telah mengurangi kemampuan alam dalam menyerap air hujan.
“Ketika fungsi-fungsi ekologis itu menurun, hujan ekstrem yang seharusnya bisa diredam justru berubah menjadi banjir bandang dan longsor,” ujar Rianda.
Fakta ini menegaskan bahwa bencana alam tidak dapat disederhanakan menjadi narasi azab atau hukuman moral. Penyebaran klaim tanpa dasar justru berpotensi menyesatkan publik dan mengaburkan akar persoalan yang sebenarnya, yakni krisis iklim dan kerusakan lingkungan.
Pakar dan pemerhati lingkungan mengingatkan masyarakat agar lebih kritis terhadap informasi viral di media sosial, terutama yang mencampuradukkan tragedi kemanusiaan dengan bencana alam tanpa bukti ilmiah.
#BreakingNews #Hoaks #BanjirSibolga #CekFakta #CuacaEkstrem #SiklonSenyar #BatangToru #KerusakanLingkungan #LiterasiDigital #HardNews






