Hujan yang turun tanpa jeda memutus banyak jalur komunikasi di Aceh, membuat sejumlah kabupaten/kota seakan terisolasi di tengah bencana hidrometeorologi. Namun pada Senin (1/12/2025), secercah kabar baik datang ketika Kementerian Komunikasi dan Digital RI resmi mengirimkan 20 perangkat Starlink untuk memulihkan akses komunikasi di titik-titik terdampak.
Di lobi Kantor Gubernur Aceh yang kini berubah menjadi jantung operasi darurat, Kepala Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas 2 Banda Aceh, Luthfi, menyerahkan langsung perangkat tersebut kepada Ketua Posko Komando Tanggap Darurat, M. Nasir. “Bantuan ini sesuai permintaan posko dan telah disetujui Bu Menteri Komdigi,” ujar Luthfi. Suaranya terdengar lega—seolah satu beban besar sedikit terangkat.
Perangkat-perangkat ini bukan sekadar alat, melainkan jembatan hidup bagi ribuan warga yang terputus dari kabar keluarga dan distribusi logistik. Nantinya, seluruh Starlink itu didistribusikan ke daerah yang masih mengalami “sunyi sinyal”: Aceh Tamiang (6 unit), Aceh Tengah (3 unit), Gayo Lues (3 unit), Aceh Tenggara (3 unit), Bener Meriah (3 unit), dan Pidie Jaya (1 unit). Di luar itu, Telkom juga mengirimkan bantuan tambahan untuk Aceh Timur, Aceh Tengah, dan Bener Meriah.
“Semoga perangkat ini memudahkan koordinasi, terutama dalam pengiriman bantuan,” kata Luthfi. Di balik kata-kata itu, tampak kesadaran bahwa setiap menit keterlambatan informasi bisa berujung pada pertaruhan nyawa.
M. Nasir, Sekda Aceh sekaligus Ketua Posko, mengucapkan terima kasih atas bantuan yang datang di saat paling genting. Ia menegaskan bahwa sinergi antara Komdigi, operator satelit nasional, hingga layanan global seperti Starlink dan PSN menjadi kunci dalam memulihkan komunikasi yang hampir kolaps.
Inisiatif Starlink memperkuat harapan itu—sebelumnya, platform internet satelit milik SpaceX tersebut telah menggratiskan akses selama 30 hari bagi seluruh pelanggannya di tiga provinsi yang dilanda banjir besar. Kini, mereka diminta memperkuat downlink di titik terparah agar komunikasi darurat tidak lagi terputus.
POSKO INFORMASI & MEDIA CENTER: NADI KOMUNIKASI DI TENGAH BENCANA
Sementara itu, Kemkomdigi terus menggerakkan segala sumber daya untuk memulihkan konektivitas di seluruh Sumatra. Selain melakukan perbaikan teknis di lapangan, mereka membangun sejumlah posko informasi sebagai pusat komando komunikasi darurat.
Di Aceh, posko dipusatkan di Gedung Sekretariat Daerah. Sumatra Barat mengoperasikan posko di Komplek Kantor Gubernur. Sumatra Utara memiliki tiga titik strategis: Gedung Kwarda Pramuka Sumut, GOR Pandan Tapanuli Tengah, dan Posko Trauma Healing di Hamparan Perak.
Posko-posko ini tidak hanya menjadi tempat kerja jurnalis dan lokasi konferensi pers, tetapi juga dapur koordinasi bagi operator seluler, satuan Komdigi, dan aparat penanganan bencana. Balai Monitoring pun ditempatkan untuk memantau stabilitas jaringan secara real-time.
Di tengah suara genset, peta-peta banjir yang terpampang di dinding, dan telepon yang terus berdering, narasi publik disusun dengan cermat. Informasi harus cepat, akurat, dan tidak menambah kepanikan. Di ruangan itu pula, konten informasi bencana disebarkan, memastikan warga mengetahui apa yang benar-benar terjadi dan ke mana harus mencari bantuan.
Saat air belum surut dan ancaman tanah longsor masih membayang, teknologi dan koordinasi menjadi pelita yang memandu ribuan warga Aceh dan Sumatra keluar dari gelap informasi.
#BreakingNewsAceh #StarlinkUntukAceh #BencanaHidrometeorologi #Komdigi #AcehTanggapDarurat #SumatraDarurat #BanjirAceh #LogistikBencana #InternetDarurat #IndonesiaSiaga







