HOAKS MENGANCAM RUANG DIGITAL, KOLABORASI NASIONAL JADI KUNCI

Fokus, Nasional461 Dilihat

 

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) kembali mengingatkan publik akan ancaman serius penyebaran hoaks yang kian masif dan merusak ruang digital nasional. Dalam SindoNews Sharing Session di Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat, Rabu (26/11/2025), Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa perang melawan hoaks adalah tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa.

Hoaks Menggerus Kohesi Sosial

Nezar mengatakan bahwa misinformasi dan disinformasi kini tumbuh subur di platform media sosial dan membawa konsekuensi besar.
“Hoaks mengancam mulai dari kohesi sosial sampai kehidupan berbangsa. Penanganannya tidak mungkin dilakukan satu pihak, butuh kolaborasi lintas sektor,” tegasnya.

Indonesia saat ini memiliki 143 juta pengguna aktif media sosial dan 230 juta pengguna internet, menjadikan ruang digital sebagai arena interaksi politik, ekonomi, dan sosial yang sangat luas—namun rentan terhadap gangguan informasi palsu.

1923 Hoaks Terdeteksi pada 2024 – Hanya Puncak Gunung Es

Sepanjang 2024, Kemkomdigi mencatat 1.923 konten hoaks yang berhasil terdeteksi.
“ Itu hanyalah puncak gunung es. Jumlah sebenarnya jauh lebih besar,” ujar Nezar.

Survei terbaru juga menunjukkan 11,9 persen responden mengaku pernah menyebarkan hoaks. Alasannya bukan hanya ketidaktahuan, tetapi juga dorongan partisan, emosi, dan bias pribadi, meski mereka tahu informasi tersebut palsu.

Hoaks Kesehatan Paling Dominan – AI Generatif Perparah Situasi

Nezar menyoroti bahwa hoaks sektor kesehatan menjadi yang paling dominan, didorong oleh teknik manipulasi berbasis kecerdasan artifisial (AI).
“Video generative AI makin halus. Bahkan pakar pun bisa terkecoh. Ini memperparah penyebaran hoaks kesehatan dan sektor lain,” jelasnya.

Literasi Digital & Fact-Checking: Garda Terdepan Pertahanan

Wamenkomdigi menegaskan bahwa literasi digital adalah fondasi utama perlindungan publik.
“Literasi digital berkorelasi langsung dengan kemampuan seseorang membedakan berita benar dan palsu,” katanya.

Ia juga menempatkan pemeriksa fakta sebagai elemen penting mitigasi hoaks, terutama dalam konteks polarisasi dan ledakan konten manipulatif berbasis AI.

Model Pentahelix: Pemerintah – Akademisi – Komunitas – Bisnis – Media

Untuk mengatasi masalah yang kompleks ini, Nezar mendorong penerapan kolaborasi pentahelix.
“Pemerintah, akademisi, komunitas masyarakat, pelaku usaha, dan media harus ada dalam satu baris,” tegasnya.

Prinsip “Stop – Think – Verify – Share”

Nezar juga menyerukan gerakan perubahan perilaku pengguna internet.
“Sebelum kita share, berhenti sebentar. Baca dengan baik. Kalau ragu, verifikasi. Kalau yakin benar, baru share,” pesannya.

Ia menegaskan bahwa kebiasaan sederhana ini dapat menciptakan ruang digital yang lebih aman, sehat, dan bebas dari polusi informasi.

#Kemkomdigi #AntiHoaks #LiterasiDigital #NezarPatria #RuangDigital #Disinformasi #Pentahelix #FactCheck #BreakingNews