PEJABAT DIERET VIRAL, MUI ANGKAT SUARA

Fokus, Nasional310 Dilihat

 

Pada suatu siang yang gerah di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, percakapan tentang etika digital mendadak terasa lebih serius daripada biasanya. Ruang auditorium yang semula riuh mahasiswa tiba-tiba hening ketika Prof. KH Asrorun Niam Sholeh mengangkat satu kalimat sederhana namun menohok: “Satu unggahan bisa mengubah hidup banyak orang.”

Kalimat itu menyambar seperti peringatan dini. Di era ketika jempol manusia bergerak lebih cepat dari nalar, peringatan itu seperti alarm yang terlambat dipasang.

Prof. Asrorun bukan sekadar mengingatkan. Ia menegur dengan bahasa seorang guru, tetapi nadanya memantul seperti peringatan darurat. Menurutnya, ruang digital adalah ruang publik—bukan panggung hiburan di mana pejabat berlomba menjadi yang paling cepat tampil. Dan setiap kali seorang pejabat tergesa-gesa menekan tombol unggah tanpa memastikan kebenaran, masyarakatlah yang menanggung repotnya.

Ia memberi contoh yang membuat ruangan kembali gaduh. Inspeksi mendadak Gubernur Jawa Barat, yang dipublikasikan tanpa klarifikasi memadai, langsung disebutnya sebagai tindakan yang “dhala fa dhala”—keliru dan menyesatkan. Publik digiring pada kesimpulan terburu-buru, reputasi orang dipertaruhkan, dan klarifikasi yang datang belakangan hanyalah tempelan yang tak sempat menutup luka.

“Begitu narasi salah itu viral, menariknya kembali seperti mengejar asap,” ucapnya. Dan benar, tak ada asap yang mau kembali ke api.

Ia mengingatkan bahwa Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 sebetulnya telah memberi rambu yang sangat jelas: jangan sebar hoaks, jangan tabur fitnah, jangan unggah konten yang tak berdasar. “Ruang digital seharusnya memperluas manfaat, bukan memproduksi mudarat,” katanya, pelan namun tajam.

Di sisi lain, Fifi Aleyda Yahya dari Kemkomdigi berdiri menguatkan pesan itu. Menurutnya, literasi digital bukan lagi sekadar kemampuan mengedit video atau memahami algoritma. Moralitas, ujarnya, adalah pondasi yang lebih penting dari sekadar teknis.

“Yang kita bangun bukan timeline,” katanya, “tapi peradaban.”
Dan peradaban tidak akan bertahan bila dipenuhi unggahan yang lahir dari emosi sesaat.

Fifi menegaskan satu hal yang membuat hadirin terdiam: jempol manusia bisa menjadi alat kebaikan, tetapi bisa juga menjadi sumber kerusakan yang tak terbendung. Pemerintah bisa membuat aturan, platform bisa menata sistem, tetapi pengguna—kitalah yang memegang tombol terakhir.

Diskusi publik hari itu ditutup dengan suasana yang berbeda dari awalnya. Tidak ada lagi tawa ringan. Yang tertinggal adalah perasaan waspada: bahwa di dunia yang dipenuhi kecepatan, kehati-hatian adalah barang mewah yang kini harus diperjuangkan.

Para peserta pulang dengan satu pesan yang terus mendengung:
Di era post-truth, kebenaran sering kalah cepat dari viral. Dan tugas manusia adalah menahan diri sebelum ikut mendorong yang salah semakin jauh.

#EtikaDigital #FatwaMUI #PostTruth #MediaSosialSehat #LiterasiDigital #StopHoaks #TabayyunDulu #GoogleNewsFriendly #BeritaTerkini #BreakingNewsID