JALAN BERLIKU MENUJU PEDALAMAN: BBM SATU HARGA, WAJAH PENGABDIAN PATRA NIAGA DI WILAYAH 3T

Ekonomi, Fokus214 Dilihat

 

Di tengah bentangan kepulauan Indonesia yang luas, di mana infrastruktur seringkali terputus oleh laut, gunung, dan hutan belantara, Pertamina Patra Niaga mengemban misi yang jauh lebih berat daripada sekadar bisnis: menjamin keadilan energi. Ini adalah perjuangan yang paling nyata di wilayah 3T—Terdepan, Terluar, dan Tertinggal—sebuah medan juang yang menuntut logistik canggih dan semangat pantang menyerah.

Bagi Pertamina Patra Niaga, misi keadilan ini terangkum dalam satu nama besar: Program BBM Satu Harga.

Program BBM Satu Harga adalah manifestasi komitmen negara untuk mengakhiri disparitas harga bahan bakar yang mencekik ekonomi masyarakat di pelosok. Sebelum program ini, harga BBM di wilayah 3T bisa melambung hingga puluhan ribu rupiah per liter, jauh di atas harga yang berlaku di kota-kota besar.

Patra Niaga, sebagai garda terdepan distribusi, menjadi eksekutor utama program ini, yang sejak 2017 telah berhasil membangun lebih dari 500 titik penyalur BBM Satu Harga di seluruh Indonesia.

Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, menegaskan bahwa program ini adalah bukti nyata komitmen perusahaan dalam memastikan aksesibilitas dan keterjangkauan energi bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama di wilayah yang paling sulit dijangkau.

Menyalurkan BBM ke wilayah 3T seringkali berarti menghadapi tantangan logistik yang ekstrem, jauh dari jalur darat yang mulus. Ini memerlukan kreativitas dan adaptasi moda transportasi, mengubah Awak Mobil Tangki menjadi “prajurit” multi-moda:

Jalur Darat Ekstrem: Mobil tangki harus menempuh ratusan kilometer melewati jalanan berliku, terjal, bahkan berlumpur, yang seringkali memakan waktu berhari-hari.

Jalur Laut dan Sungai: Untuk menjangkau pulau-pulau terluar, kapal tanker kecil, tongkang, hingga perahu tradisional dimanfaatkan. Perjalanan laut yang berjam-jam menyeberangi samudera adalah risiko yang harus diambil demi pasokan.

Jalur Udara: Untuk daerah yang benar-benar terisolasi, seperti di kawasan pegunungan Papua atau Krayan di Kalimantan Utara, Patra Niaga bahkan menggunakan pesawat kargo kecil (seperti Grand Caravan) untuk mengangkut BBM, sebuah metode yang sangat mahal namun esensial untuk menjamin ketersediaan.

Upaya ini tidak hanya berfokus pada BBM bersubsidi (Solar dan Premium/Pertalite), tetapi juga mencakup perluasan jaringan distribusi LPG dan gas rumah tangga, memastikan rumah tangga di pedalaman pun mendapat akses energi masak yang layak.

Di balik capaian angka dan infrastruktur, ada filosofi pelayanan yang mendasar: Patra Niaga berupaya memenuhi prinsip 5A dalam ketahanan energi: Availability (Ketersediaan), Accessibility (Akses), Affordability (Keterjangkauan Harga), Acceptability (Produk yang Tepat), dan Sustainability (Keberlanjutan).

Keberhasilan mencapai 573 titik operasional BBM Satu Harga (per akhir 2024), dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu wilayah dengan titik penyalur terbanyak, adalah bukti nyata bahwa tekad perusahaan tak hanya sebatas mencari untung, tetapi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

#BBMSatuHarga #PatraNiaga #Wilayah3T #KeadilanEnergi #LogistikEkstrem #DistribusiBBM #InfrastrukturEnergi