JK DAN DUA TOKOH INDONESIA GUNCANG FORUM DUNIA

Fokus, Internasional388 Dilihat

 

Di bawah langit musim gugur Roma, denting lonceng Basilika Lateran berpadu dengan langkah para pemimpin dunia yang datang dari berbagai benua. Di tengah riuh bahasa dan keyakinan yang beragam, tiga suara dari Nusantara menggema dengan tenang namun tegas — suara tentang dialog, keadilan, dan kemanusiaan.

Jusuf Kalla (JK), Prof. Nasaruddin Umar, dan Arsjad Rasjid bukan sekadar delegasi biasa di forum Daring Peace – International Meeting for Peace yang digelar akhir Oktober 2025 oleh Comunità di Sant’Egidio. Mereka membawa napas Indonesia — negeri dengan ribuan pulau dan sejuta cara untuk hidup berdampingan — ke jantung Eropa yang kerap dirundung kecemasan geopolitik dan ekstremisme.

Dalam forum lintas iman dan budaya yang mempertemukan ribuan tokoh dunia, ketiganya tampil bukan sebagai politisi, rohaniawan, atau pengusaha semata, melainkan sebagai penjaga nurani bangsa. Mereka datang bukan untuk menggurui, melainkan untuk mengingatkan dunia: perdamaian tidak lahir dari kekuatan, melainkan dari keberanian untuk memahami.

Jusuf Kalla membuka percakapan dengan nada lembut namun menggigit. “Perdamaian sejati hanya bisa dibangun melalui keadilan dan keberanian moral,” katanya, dikutip Eka Sastra, Sabtu (1/11/2025). Ia menolak melihat masjid hanya sebagai ruang ibadah, melainkan juga tempat menanamkan solidaritas sosial. “Masjid harus hidup, menjadi pusat kemanusiaan, bukan sekadar tempat ritual.”

Sementara itu, Prof. Nasaruddin Umar, Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, berbicara dengan gaya khasnya yang menyejukkan namun sarat peringatan. “Ancaman terbesar bagi perdamaian bukan agama, melainkan penyalahgunaan agama,” tegasnya. Dunia, ujarnya, terlalu sering menyalahkan iman atas konflik yang sesungguhnya lahir dari ambisi politik.

Ia kemudian mengangkat Indonesia sebagai contoh hidup kerukunan yang nyata. “Kami hidup dalam perbedaan — dan justru di situlah letak kekuatan kami,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta. “Indonesia adalah laboratorium kerukunan dunia.”

Dari sisi lain panggung, Arsjad Rasjid membawa perspektif yang jarang dibicarakan dalam forum perdamaian: ekonomi. Ketua Umum KADIN sekaligus Ketua Dewan Masjid Indonesia Bidang Kewirausahaan itu menegaskan bahwa ketimpangan ekonomi adalah sumber konflik yang sering tak disadari. “Ekonomi tanpa kemanusiaan adalah konflik yang tersamar,” ucapnya dalam sesi bertema Economy and Solidarity.

Arsjad juga memperkenalkan gerakan 5P Global Movement — inisiatif yang ia gagas untuk menghubungkan dunia usaha dengan misi kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa perusahaan bukan hanya mesin laba, tetapi juga instrumen moral.

Kehadiran tiga figur ini di antara ratusan delegasi internasional menciptakan harmoni yang khas: politik yang berjiwa, spiritualitas yang membumi, dan ekonomi yang beretika. Mereka menampilkan wajah damai Indonesia, wajah yang tidak berteriak, tapi berbicara lewat keteladanan.

Forum di Roma itu ditutup dengan kalimat yang membekas dari Paus Leo XIV: “Perdamaian bukan hadiah, tetapi keputusan.” Kalimat yang terasa sederhana, namun mengandung makna yang dalam — bahwa damai adalah tindakan, bukan sekadar doa.

Di ruang yang semerbak dupa dan gema doa lintas bahasa itu, suara Indonesia terdengar paling jernih: mengajak dunia untuk memilih jalan yang lebih manusiawi. Sebuah pesan yang tak berhenti di Roma, tapi bergaung kembali ke tanah air — mengingatkan kita bahwa perdamaian sejati dimulai dari keberanian untuk memahami sesama.

#IndonesiaUntukDunia #PeaceFromIndonesia #DaringPeaceRome #SantEgidio2025 #JusufKalla #JK #NasaruddinUmar #ArsjadRasjid #DialogLintasAgama #PerdamaianGlobal