9,6 JUTA PRODUK SUDAH HALAL: LANGKAH BESAR BABE HAIKAL WUJUDKAN INDONESIA PUSAT HALAL DUNIA

Ekonomi, Fokus, Nasional247 Dilihat

 

Di tengah hiruk pikuk geliat ekonomi nasional, satu kabar menggembirakan datang dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Lembaga ini mencatat 9,6 juta produk kini resmi bersertifikat halal, hasil dari 2,79 juta sertifikat halal yang telah diterbitkan sejak program percepatan digulirkan.

Capaian itu bukan sekadar angka di atas kertas. Ia adalah buah kerja panjang yang menyentuh denyut kehidupan rakyat kecil—dari dapur warteg Tegal, warung Padang, warung Sunda, hingga kios-kios kaki lima yang kini bisa mengantongi sertifikat halal tanpa ribet dan tanpa biaya.

“Ini kado indah dari Presiden Prabowo Subianto untuk rakyat,” ujar Ahmad Haikal Hasan, Kepala BPJPH, di Jakarta, Senin (6/10/2025). “Sertifikasi halal gratis bagi warteg, warsun, dan warung sejenis mulai berlaku sejak 8 Juli 2025, lewat Keputusan Kepala BPJPH Nomor 146 Tahun 2025.”

Revolusi Halal dari Dapur Rakyat

Sebelum kebijakan itu lahir, sertifikasi halal sering dianggap urusan rumit—dokumen menumpuk, biaya tak sedikit, dan waktu yang panjang. Tapi kini, lewat skema self-declare yang dipadukan dengan pendampingan langsung, pemilik warteg cukup memastikan bahan, dapur, dan proses masaknya sesuai syariat, lalu mengajukan sertifikasi dengan panduan pendamping resmi.

Hasilnya tak main-main. Sebanyak 700 warteg telah tersertifikasi halal gratis, sementara 500 warung lain sedang diproses. Jumlah itu terus bertambah dari hari ke hari, mengubah wajah UMK Indonesia menjadi lebih modern dan berdaya saing.

“Halal itu bukan hanya label agama,” kata Babe Haikal—sapaan akrabnya. “Ini juga soal mutu, kebersihan, dan kepercayaan konsumen. Kalau warteg sudah halal, ekonomi umat ikut naik kelas.”

Ekosistem Halal Terbesar di Dunia

Di balik program besar ini, berdiri jaringan luas yang menopang operasional sertifikasi halal. BPJPH kini mengandalkan 328 lembaga pendamping proses produk halal (LP3H) dengan 103.675 pendamping PPH di seluruh Indonesia—dari Aceh sampai Merauke.

Selain itu, ada 108 lembaga pemeriksa halal (LPH) yang diperkuat oleh 1.778 auditor terdaftar dan 2.866 auditor terlatih. Di tingkat lapangan, 3.058 juru sembelih halal (Juleha) dan 2.866 penyelia halal menjaga standar proses di rumah potong hewan dan unggas (RPH/RPU).

Namun BPJPH tak berhenti di sana. Di sektor hulu, Babe Haikal menyiapkan pelatihan bagi Juleha TPU Jabodetabek, memperkuat pemahaman tentang tata cara penyembelihan sesuai syariat dan standar global. Bahkan kini, BPJPH tengah merancang pasar halal nasional—ruang ekonomi baru bagi produk halal lokal untuk tampil di etalase dunia.

“Pasar halal ini bukan hanya ide, tapi kebutuhan,” ujarnya. “Kita sedang menyiapkan regulasinya agar produk halal Indonesia tak hanya dikonsumsi di sini, tapi bisa bersaing di level global.”

Sinergi Kolaboratif: Halal Jadi Gerakan Nasional

Babe Haikal sadar, tugas besar ini tak bisa dikerjakan sendirian. Karena itu, BPJPH membuka kolaborasi lintas sektor—pemerintah daerah, asosiasi usaha, BUMN dan BUMD, perguruan tinggi, ormas, hingga komunitas wirausaha.

“Sinergi ini adalah fondasi,” tegasnya. “Tertib halal bukan cuma urusan agama, tapi juga strategi ekonomi nasional. Kita ingin membangun ekosistem bisnis halal yang kuat, tangguh, dan berdaya saing tinggi.”

Langkah besar BPJPH itu disambut positif banyak pihak. Pengusaha kecil merasa lebih diperhatikan, sementara industri besar melihat peluang untuk memperluas ekspor produk halal ke Timur Tengah, Asia Selatan, dan Eropa.

Di mata publik, sosok Babe Haikal bukan sekadar birokrat. Ia dikenal komunikatif, dekat dengan pelaku usaha kecil, dan punya gaya bicara yang lugas tapi menenangkan. Dengan ciri khas humor Betawinya, ia sering berkata, “Kalau warung rakyat sudah halal, berarti ekonomi bangsa lagi menuju keberkahan.”

Di ruang kerjanya yang dipenuhi berkas sertifikasi dan grafik capaian digital, Babe Haikal tersenyum lebar. Ia tahu, perjuangan membangun “ekonomi halal” bukan kerja sehari dua hari. Tapi langkah awal sudah diletakkan: membuat sertifikasi halal tak lagi menakutkan, tapi memerdekakan.

“Dulu orang bilang sertifikasi halal itu rumit,” katanya pelan. “Sekarang, orang bilang: halal itu mudah. Dan memang harus begitu.”

Dalam semangat baru itu, Indonesia bukan hanya ingin menjadi pasar halal terbesar di dunia, tapi juga produsen utama yang memimpin industri halal global.

Dan mungkin, dari dapur-dapur kecil para penjaga rasa Nusantara—warteg, warsun, warung Padang—lah cita-cita besar itu mulai beraroma.

#BPJPH #HalalIndonesia #EkonomiSyariah #WartegHalal #BabeHaikal #PrabowoSubianto #IndonesiaHalalCenter #EkonomiUmat