POLDA METRO JAYA TURUNKAN RATUSAN PERSONEL, JAKARTA DIGELAR PATROLI BESAR-BESARAN

Fokus, Hukum386 Dilihat

Jakarta sore kemarin tampak berbeda. Deru sirene dan iring-iringan kendaraan taktis memecah lalu lintas ibu kota. Kepolisian Daerah Metro Jaya mengerahkan 184 personel gabungan dalam sebuah patroli skala besar yang menyisir titik-titik strategis dari pusat hingga pinggiran kota.

Dua rayon dibentuk dengan jalur berbeda. Rombongan pertama bergerak dari Markas Polda, lalu berputar melalui Matraman, Pramuka, Jakarta Utara, hingga Pelabuhan Tanjung Priok, Sunter, Kemayoran, Manggarai, Tebet, Pancoran, dan kembali ke markas. Rayon kedua mengambil rute panjang dari Polda menuju Kampung Melayu, Tebet Selatan, Lebak Bulus, Pondok Indah, Arteri Permata Hijau, Palmerah, Tomang, Harmoni, Monas, sebelum kembali ke titik awal.

AKBP Aritonang, Kasiaga Biro Operasi Polda Metro Jaya, menegaskan operasi ini bukan sekadar pengamanan. “Kami mengedepankan patroli dialogis. Anggota hadir untuk menyapa warga, mendengar keluhan, juga masukan. Polri harus semakin dekat dengan masyarakat,” ujarnya, Sabtu (13/9).

Tak hanya soal kehadiran fisik, pendekatan humanis juga ditekankan. Polisi diinstruksikan untuk tidak hanya berjaga, tapi juga berinteraksi. “Patroli ini harus siap, terlihat, dan bermanfaat. Yang terpenting, anggota selamat dan masyarakat merasa aman,” kata Aritonang.

Patroli besar ini menjadi salah satu upaya Polda Metro Jaya merespons dinamika keamanan di ibu kota yang kerap bergerak cepat. Dengan pola dialogis, polisi berusaha memastikan bahwa kehadirannya bukan sekadar simbol, melainkan jembatan antara aparat dan publik.

Malam harinya, Jakarta tidak hanya dijaga oleh kendaraan lapis baja dan barisan aparat bersenjata. Ada sapaan, obrolan singkat, dan telinga yang terbuka di setiap sudut kota. Polisi ingin memastikan, warga merasakan aman bukan hanya karena pengamanan, tapi juga karena kedekatan.