KAKAK-BERADIK MINAHASA PEMOTRET PROKLAMASI MENGAPA BELUM PAHLAWAN NASIONAL?

Fokus, Nasional, Opini60 Dilihat

Catatan HM Iqbal Miad, MS, Pemimpin Umum

Bayangkan sebuah peristiwa terbesar dalam sejarah bangsa—Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945—terkamera dengan risiko tertinggi. Di tengah lolongan senapan Jepang dan bayonet siap mengancam, dua bersaudara asal Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara: Alex Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur, nekat mengabadikan ‘detik-detik proklamasi’—lalu menyembunyikan roll film bersejarah itu dengan cara menguburnya di belakang rumah, demi menyelamatkan jejak visual kelahiran republik! Kini, puluhan dekade berselang, pertanyaannya menggantung: mengapa jasa monumental mereka tak diabadikan dalam “gelar pahlawan nasional”?

Latar Belakang & Momentum Bersejarah

Alex Mendur (lahir 7 November 1907) dan Frans Mendur (lahir 16 April 1913), putra Kawangkoan, Minahasa—awalnya hanya wartawan foto yang mencintai dunia dokumentasi. Alex bekerja di De Java Bode dan Domei (kantor berita Jepang), sementara Frans mengikuti jejaknya di dunia fotografi.

Pada 17 Agustus 1945, keduanya berhasil merekam momen krusial—Soekarno-Hatta membacakan teks Proklamasi dan pengibaran Bendera Merah Putih—di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.

Ancaman Jepang & Film yang Selamat Berkat Tanah

Jepang mencurigai tindakan mereka, memeriksa, dan bahkan menyita film Alex. Frans, sadar akan potensi bahaya, segera mengganti roll film dan mengubur film asli di belakang tempat tinggalnya, hingga situasi cukup aman untuk diungkap setelah sekitar 6 bulan kemudian.

Penghargaan yang Telah Diterima

Atas jasa luar biasa mereka, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan Bintang Jasa Utama (2009) dan Bintang Mahaputera Nararya (2010) kepada Alex dan Frans secara anumerta.

Tugu Pers Mendur Sebagai Peringatan di Tanah Lahir

Pada 11 Februari 2013, Presiden SBY meresmikan Tugu Pers Mendur di Kawangkoan (Kelurahan Talikuran)—monumen dua patung bersaudara berdiri di atas kamera Leica, berdiri sebagai wujud penghormatan terhadap jasa mereka.

Kondisi yang Memprihatinkan

Sayangnya, tugu dan museum kecil yang dibangun di atas dana pribadi mantan Gubernur Sulawesi Utara, almarhum Sinyo Harry Sarundajang, kini memprihatinkan: dinding rumah adat berpotensi rapuh dimakan rayap, dan koleksi—foto-foto bersejarah dan kamera—terancam keselamatan dan pencurian karena fasilitas tidak memadai.

Museum memamerkan sekitar 113 foto karya mereka, termasuk dokumentasi Proklamasi dan momen perjuangan lainnya. Namun sayangnya, belum mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat dan daerah hingga kini.

Perjuangan Agar Menjadi Pahlawan Nasional

Saat ini ada gelombang dukungan dari masyarakat Kawangkoan dan sekitarnya untuk mengusulkan gelar Pahlawan Nasional bagi Alex dan Frans Mendur. Proses administrasi telah mencapai sekitar 90 persen, dan masih menunggu usulan resmi dari pemerintah daerah serta dukungan formal dari publik.

Kisah heroik Alex dan Frans Mendur adalah kisah hubungan kuat antara lensa kamera dan sejarah bangsa. Film yang disembunyikan dalam tanah bukan sekadar media visual—ia menjadi saksi bisu dari lahirnya Indonesia merdeka. Meski tak pernah menyandang gelar pahlawan, mereka telah menorehkan namanya di hati rakyat dengan tinta cahaya dan keberanian. Kini, harapan terpatri agar pemerintah dan negara berkenan “mengarahkan medali” sejarah itu menjadi lebih setimpal agar generasi muda termotivasi. (*)