RS INDONESIA DI GAZA: DIRESMIKAN JK SIMBOL CINTA DAN KETEGUHAN BANGSA UNTUK PALESTINA

Fokus, Opini385 Dilihat

Oleh: HM Iqbal Miad, MS, Pemimpin Umum
Rumah Sakit Indonesia di Gaza menjadi simbol nyata solidaritas rakyat Indonesia terhadap penderitaan warga Palestina. Sejak mulai beroperasi pada 2015 dan diresmikan pada awal 2016, rumah sakit ini telah menjadi salah satu bentuk kepedulian paling konkret yang tak hanya menyentuh aspek kemanusiaan, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam perjuangan global membela hak-hak rakyat Palestina.

Dengan kapasitas melayani hingga 300.000 warga Gaza, RS Indonesia bukan sekadar fasilitas medis. Di tengah blokade dan gempuran militer Israel, rumah sakit ini telah menjadi tempat berlindung ribuan warga yang kehilangan rumah dan akses layanan dasar. Keberadaannya mencerminkan keberanian dan keteguhan semangat kemanusiaan Indonesia yang terus bertahan di tengah konflik berkepanjangan.

Dibangun dari Dana Rakyat, Dikerjakan oleh Anak Bangsa
Gagasan membangun RS Indonesia muncul pasca agresi Israel ke Gaza pada 2008–2009. Melalui inisiatif Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), pembangunan dimulai Mei 2011, di atas lahan seluas 1,6 hektare yang disumbangkan oleh pemerintah Palestina.

Meski dihantam konflik bersenjata pada 2013 dan 2014, serta terhambat blokade ketat Israel, proses konstruksi terus berlangsung hingga tuntas pada 2014. RS ini mulai menerima pasien pada 2015 dan diresmikan oleh Wapres Jusuf Kalla pada 9 Januari 2016 secara simbolis di Jakarta.

Pembangunannya melibatkan 43 relawan Indonesia dari berbagai disiplin, mulai dari arsitek, insinyur, hingga pekerja lapangan, semuanya bergerak tanpa dukungan dana asing. Total biaya sebesar Rp126 miliar seluruhnya berasal dari donasi masyarakat dan organisasi sipil di tanah air. “Semuanya dari rakyat Indonesia, tak ada dana asing,” kata Ketua Presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah saat peresmian.

RS Indonesia di Tengah Kepungan dan Serangan
Meski berstatus fasilitas kemanusiaan, RS Indonesia tidak luput dari serangan brutal militer Israel. Bangsal operasi dan lantai atas rumah sakit berkali-kali dihantam peluru dan rudal, bahkan saat rumah sakit dipenuhi pengungsi sipil.

Serangan berat terjadi pada November 2023 dan Oktober 2024. Rumah sakit kembali dikepung secara ketat oleh pasukan Israel pada Mei 2025, membuat seluruh aktivitas medis lumpuh. Puncaknya, pada awal Juni 2025, pasukan Zionis memaksa evakuasi total terhadap petugas medis dan pasien yang tersisa.

Kebanggaan yang Tak Padam
Terlepas dari berbagai ancaman, RS Indonesia tetap berdiri sebagai simbol keberanian dan kesetiaan dalam kemanusiaan. Tenaga medis Indonesia yang dikirim ke Gaza secara bergilir telah berkontribusi besar dalam penanganan ribuan kasus luka perang, persalinan darurat, hingga bantuan kemanusiaan lainnya.

Meski kini rumah sakit itu telah dikosongkan, semangatnya terus hidup dalam benak masyarakat Indonesia dan rakyat Palestina. RS Indonesia tidak hanya meninggalkan jejak fisik, tapi juga nilai moral bahwa kemanusiaan tak bisa dibungkam oleh kekerasan.

Kisah RS Indonesia di Gaza adalah catatan sejarah yang membanggakan—tentang bagaimana kepedulian rakyat bisa menjelma menjadi benteng kemanusiaan di tengah reruntuhan perang. ***