MAKASSAR: KETAHUI NAMA, SEJARAH, DAN JEJAK MARITIM NUSANTARA

Fokus, Regional1257 Dilihat

Oleh: HM Iqbal Miad, MS, Pemimpin Umum

Di pesisir barat daya Pulau Sulawesi, berdiri sebuah kota yang menyimpan sejarah panjang perdagangan, pelayaran, dan perlawanan. Namanya Makassar — nama yang kini dikenal sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, namun dahulu adalah gerbang utama Indonesia Timur ke samudera lepas. Dari mana asal nama Makassar? Apa yang membuatnya begitu penting dalam sejarah Nusantara?

Dari “Mangkasarak” ke Makassar

Sejarawan dan budayawan Makassar sepakat bahwa nama “Makassar” berasal dari kata lokal “Mangkasarak” atau “Mangkasaraké”, yang berarti “bersifat tegas, terbuka, atau tidak berbelit-belit.” Kata ini merujuk pada karakter orang Makassar yang dikenal lugas, pemberani, dan pantang mundur.

Seiring waktu, penyebutan oleh bangsa asing seperti Portugis dan Belanda mengubah “Mangkasarak” menjadi “Macassar” atau “Makassar”. Nama inilah yang bertahan hingga hari ini, bukan hanya sebagai identitas geografis, tetapi juga simbol kejayaan masa lalu.

Pelabuhan Besar dari Timur

Sejak abad ke-15, wilayah Makassar sudah menjadi pusat perdagangan yang ramai. Letaknya yang strategis di jalur pelayaran antara Maluku dan Jawa membuat pelabuhan ini berkembang pesat. Di sinilah berbagai bangsa — dari Arab, India, Tiongkok, hingga Portugis — saling bertemu, berdagang, dan berbagi pengaruh budaya.

Puncak kejayaan Makassar terjadi pada masa Kesultanan Gowa-Tallo, dua kerajaan kembar yang bersatu dan menjadikan Makassar sebagai ibu kota politik sekaligus pusat dakwah Islam. Pada 1605, Raja Gowa, Daeng Manrabia, memeluk Islam dan menjadi Sultan Alauddin — tonggak penting dalam Islamisasi Indonesia Timur.

Sultan Hasanuddin dan Perang Melawan VOC

Makassar tak hanya dikenal karena dagangnya, tapi juga karena perlawanannya. Salah satu tokoh besar dalam sejarahnya adalah Sultan Hasanuddin, yang dijuluki Belanda sebagai “Ayam Jantan dari Timur”. Ia memimpin perlawanan sengit terhadap monopoli dagang VOC (Belanda) yang ingin menguasai rempah-rempah.

Konflik besar terjadi dan berpuncak pada Perang Makassar (1666–1667). Meski akhirnya kalah dan dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya, perlawanan Hasanuddin dikenang sebagai simbol keberanian lokal dalam menghadapi kekuatan kolonial.

Benteng Rotterdam: Jejak Fisik Sejarah

Salah satu saksi bisu sejarah Makassar adalah Benteng Rotterdam, yang awalnya bernama Benteng Ujung Pandang. Bangunan ini dulunya merupakan benteng pertahanan Kerajaan Gowa sebelum diambil alih dan dibangun ulang oleh Belanda. Kini, benteng itu menjadi museum sejarah dan ikon kota Makassar — tempat warga dan wisatawan menyusuri jejak masa lalu yang masih terasa nyata.

Bukti dan Naskah Lontarak

Makassar tidak hanya memiliki bangunan bersejarah, tetapi juga warisan naskah kuno yang disebut Lontarak. Naskah ini mencatat silsilah, hukum adat, hingga peristiwa penting dalam sejarah Gowa-Tallo. Di sinilah kita bisa menelusuri asal-usul nama Makassar dan bagaimana kota ini menjadi pusat peradaban tersendiri di Indonesia Timur.

Makassar Hari Ini: Menjaga Warisan, Menatap Masa Depan

Hari ini, Makassar berkembang menjadi kota modern yang tetap menjaga warisan budaya maritimnya. Di tengah gedung-gedung tinggi dan jalan-jalan padat, masih hidup semangat Mangkasarak: keberanian, keterbukaan, dan kekuatan untuk terus maju.

Nama Makassar bukan sekadar label di peta. Ia adalah warisan, cerita, dan identitas. Kota ini telah berdiri kokoh di antara ombak sejarah, dan akan terus menjadi bagian penting dalam kisah besar Indonesia.

“Makassar bukan hanya kota. Ia adalah pelabuhan jiwa dan ingatan tentang Nusantara yang dulu dan kini.” ***