MENTERI ESDM: IMF PERBURUK EKONOMI INDONESIA

Ekonomi, Fokus, Nasional1107 Dilihat

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menilai kehadiran International Monetary Fund (IMF) pascareformasi justru memperparah kondisi ekonomi Indonesia, terutama di sektor energi.

“Pascareformasi, IMF masuk sebagai dokter yang diklaim ahli dalam mendiagnosa dan menyembuhkan penyakit ekonomi Indonesia. Namun, apa yang terjadi? Rekomendasi mereka justru semakin memperburuk keadaan,” ujar Bahlil dalam keterangan resminya, Rabu (19/2/2025).

DAMPAK IMF TERHADAP SEKTOR MIGAS
Menurut Bahlil, salah satu dampak negatif kebijakan IMF adalah perubahan Undang-Undang (UU) Minyak dan Gas (Migas) yang melemahkan Pertamina dan menyebabkan penurunan lifting minyak atau produksi minyak nasional.

Pada 1996-1997, produksi minyak Indonesia mencapai 1,5-1,6 juta barel per hari dan menyumbang 40 persen dari total pendapatan negara. Namun, saat ini lifting minyak hanya sekitar 600 ribu barel per hari, sementara tingkat konsumsi mencapai 1,5-1,6 juta barel per hari. Akibatnya, Indonesia yang dulu merupakan eksportir minyak kini harus mengimpor 1 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Setelah meneliti permasalahan ini selama lima bulan sejak menjabat sebagai Menteri ESDM, Bahlil menemukan bahwa dari 40 ribu sumur minyak yang ada di Indonesia, hanya 16 ribu yang aktif. Mayoritas produksi minyak nasional berasal dari Pertamina (60-65 persen) dan ExxonMobil (25 persen).

Bahlil menegaskan bahwa banyak sumur minyak tua tidak dapat dioperasikan akibat berbagai faktor, seperti kurangnya investasi dan teknologi.

STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Bahlil menawarkan tiga strategi utama guna meningkatkan lifting minyak nasional:

Mengaktifkan kembali sumur idle

Negara akan mengambil alih sumur-sumur minyak yang tidak aktif dan menawarkannya kepada pengusaha lain.
Saat ini, sudah ada 6.000 sumur yang diambil alih pemerintah.
Penerapan teknologi baru

Penggunaan Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk meningkatkan produksi minyak dari sumur-sumur tua.
Dengan penerapan teknologi ini, lifting minyak nasional ditargetkan mencapai 900 ribu barel per hari pada 2028-2029.
Percepatan eksplorasi dan produksi

Sumur-sumur yang sudah menyelesaikan tahap eksplorasi dan memiliki Plan of Development (PoD) harus segera diproduksi.
Bahlil optimistis bahwa dengan langkah-langkah strategis ini, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan memperkuat sektor energi nasional dalam beberapa tahun ke depan.