Fenomena Not in Employment, Education, or Training (NEET)—yang merujuk pada penduduk usia muda 15-24 tahun yang tidak sedang sekolah, tidak bekerja, atau tidak mengikuti pelatihan—di kalangan Generasi Z di Indonesia semakin meningkat.
Menurut Peneliti Psikologi Sosial, Wawan Kurniawan, kondisi ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, serta terbatasnya akses pendidikan dan pekerjaan. “Salah satu penyebab utama adalah tingginya biaya pendidikan yang terus naik setiap tahunnya,” ujarnya dalam wawancara bersama Pro 3 RRI, Minggu (16/2/2025).
Banyak anak muda kesulitan melanjutkan pendidikan tinggi, ditambah dengan pesimisme bahwa kuliah tidak menjamin pekerjaan. Selain itu, meskipun tersedia pelatihan keterampilan gratis, banyak yang enggan mengikutinya akibat minimnya informasi dan akses, terutama di daerah terpencil seperti Papua Tengah dan Maluku.
Lebih lanjut, Wawan menjelaskan bahwa Generasi Z juga menghadapi stereotip negatif sebagai tenaga kerja yang kurang tangguh. Akibatnya, mereka kerap mengalami diskriminasi dalam proses rekrutmen, meskipun memiliki potensi besar.
“Stigma ini tidak sepenuhnya benar. Setiap generasi punya tantangannya sendiri, dan Generasi Z menghadapi situasi yang lebih sulit dibanding generasi sebelumnya,” tegasnya.
Masalah ini berpotensi meningkatkan angka pengangguran dan ketergantungan pada bantuan sosial. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memperburuk situasi ekonomi dan sosial di Indonesia.
Wawan menekankan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah serius untuk memperbaiki akses pendidikan dan pekerjaan. Tanpa kebijakan yang konkret, target Indonesia Emas 2045 bisa terancam.
SUMBER : RRI






