Oleh: Fadhil As. Mubarok | CEO Mubarok Institute
Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung Sidang Paripurna pertama Dewan Energi Nasional (DEN) tahun 2026 di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 17 September 2026. Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam, mulai pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, membahas sejumlah agenda strategis mulai dari kesiapan stok bahan bakar minyak nasional hingga arah kebijakan energi jangka panjang di tengah gejolak geopolitik global.
Rapat turut dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka selaku Wakil Ketua DEN, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Harian DEN, serta seluruh anggota dewan dari unsur pemerintah, akademisi, dan pelaku industri. Usai pertemuan, Bahlil menjelaskan kepada wartawan bahwa pembahasan tidak lepas dari dinamika situasi Timur Tengah yang berdampak pada pasokan energi dalam negeri.
Salah satu poin penting yang diungkap Bahlil adalah kondisi cadangan BBM nasional yang saat ini berada pada level aman, berkisar 18 hingga 20 hari konsumsi. Ia menegaskan situasi pasokan energi domestik masih terkendali meski dunia tengah dibayangi ketidakpastian geopolitik.
Selain memastikan ketahanan jangka pendek, sidang turut membahas langkah memperkuat kemandirian energi jangka panjang lewat pengembangan bahan bakar campuran bioetanol 50 persen atau E50, sebagai kelanjutan dari program biodiesel B50 yang telah lebih dulu berjalan. Bahlil menjelaskan bahwa kebijakan ini penting mengingat konsumsi solar nasional saat ini mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun, sementara konsumsi bensin berkisar 39 hingga 40 juta kiloliter per tahun, sehingga transisi menuju bahan bakar nabati diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada impor komoditas hidrokarbon.
Isu lain yang turut dibahas adalah percepatan eksplorasi minyak dan gas bumi, baik lewat pembukaan blok migas baru maupun optimalisasi sumur-sumur tua dengan teknologi modern. Pemerintah turut menyoroti penataan puluhan ribu sumur minyak rakyat yang selama ini beroperasi secara informal, dengan rencana melegalkan pengelolaannya secara lebih profesional agar tercipta kepastian hukum sekaligus perlindungan bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari aktivitas tersebut.
Perkembangan signifikan lainnya datang dari pembahasan Rancangan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi (RUU Migas) yang tengah digodok bersama DPR. Bahlil mengungkap rencana pembentukan Badan Usaha Khusus atau BUK di sektor migas, yang nantinya akan berada dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Skema kelembagaan baru ini diharapkan memperkuat tata kelola sektor hulu migas, sekaligus memberikan fleksibilitas lebih besar dalam bernegosiasi dengan mitra swasta, meski detail bentuk dan mekanismenya masih terus dibahas lebih lanjut bersama parlemen.
Rangkaian pembahasan dalam sidang perdana DEN tahun ini menegaskan fokus pemerintah pada dua sisi sekaligus, yakni menjaga ketahanan pasokan energi dalam jangka pendek sembari membangun fondasi kemandirian energi nasional yang lebih kokoh untuk jangka panjang, di tengah tantangan dinamika geopolitik global yang terus berkembang.
#DewanEnergiNasional #PrabowoSubianto #BahlilLahadalia #StokBBM #E50 #RUUMigas #KetahananEnergi #GibranRakabumingRaka #KemandirianEnergi #BeritaEnergi






