Iran Diklaim Kian Kehilangan Kendali di Selat Hormuz

TEHERAN — Perebutan pengaruh atas Selat Hormuz kembali memanas, dengan data terbaru menunjukkan tren yang mengejutkan bagi Iran. Berdasarkan analisis perusahaan pelacak kapal Kpler yang dikutip CNN pada Selasa, 18 Agustus 2026, lebih dari 80 persen lalu lintas kapal yang melintasi selat strategis tersebut selama dua pekan terakhir memilih jalur pesisir utara Oman, rute yang disahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa namun selama ini ditentang keras oleh Teheran.

Kondisi ini kontras jauh dibanding situasi sebulan sebelumnya, ketika Kpler nyaris tidak mencatat aktivitas pelayaran sama sekali di jalur Oman tersebut. Kepala Analisis Minyak Mentah Kpler, Homayoun Falakshahi, menilai fenomena ini menjadi indikasi kuat bahwa Iran setidaknya telah kehilangan sebagian kendalinya atas jalur perairan vital tersebut, sebagaimana disampaikannya kepada CNN.

Iran sendiri secara resmi mengeklaim selat itu berada di bawah kendali penuhnya, dan telah melancarkan serangan terhadap puluhan kapal yang mencoba melintas lewat pesisir utara Oman. Meski demikian, mayoritas kapal belakangan ini memilih mengabaikan tuntutan Teheran dan tetap nekat melintas dengan mengandalkan jaminan perlindungan dari Angkatan Laut Amerika Serikat yang berpatroli di kawasan tersebut.

Pergeseran rute pelayaran ini turut berdampak pada kemampuan fiskal Iran. Sejak akhir Maret 2026, parlemen Iran sempat mengesahkan kebijakan pungutan biaya transit bagi kapal yang melintasi selat lewat jalur yang dikuasai Iran. Namun dengan makin sedikitnya kapal yang melewati rute tersebut, Teheran praktis kehilangan sumber pendapatan dari mekanisme pungutan itu. Berakhirnya nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran pekan ini secara teori membuka kembali peluang Iran memungut biaya transit, namun data Kpler menunjukkan belum ada bukti nyata bahwa kebijakan tersebut kembali berjalan efektif.

Kepala Investasi Pickering Energy Partners, Dan Pickering, menjelaskan bahwa mayoritas pelaku pelayaran di kawasan Timur Tengah sejak awal enggan membayar pungutan kepada Iran, sehingga jalur Oman dinilai menjadi pilihan paling rasional secara bisnis. Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, turut mengungkap bahwa Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab telah menyewa kapal tanker superbesar atau Very Large Crude Carrier untuk mengangkut minyak mentah dari Teluk Persia melintasi Selat Hormuz, sebelum memindahkan muatannya ke kapal pelanggan di kawasan Teluk Oman yang dinilai lebih aman.

Sejumlah kapal bahkan sengaja mematikan transponder mereka selama berminggu-minggu demi menghindari deteksi dan potensi serangan, sehingga menciptakan aktivitas pelayaran tersembunyi atau dark shipping yang turut luput dari pantauan lembaga pelacak seperti Kpler. Meski demikian, ancaman dan serangan terhadap kapal yang melintasi jalur Oman dilaporkan masih terus berlangsung, menandakan situasi di Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal meski dominasi Iran atas jalur tersebut dinilai kian memudar.

#SelatHormuz #Iran #JalurOman #KplerData #KonflikASIran #AngkatanLautAS #PerdaganganMinyakDunia #GeopolitikTimurTengah #CNN #BeritaInternasional