Jakarta – Harga minyak dunia melesat signifikan setelah eskalasi militer baru pecah di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan laporan Reuters pada Kamis (30/7/2026), minyak jenis Brent ditutup naik 7,91 persen menjadi USD90,74 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 6,56 persen ke level USD84,46 per barel. Lonjakan ini disebut sebagai salah satu kenaikan harian tertajam tahun ini.
Pemicu utama datang dari serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi terhadap kelompok bersenjata yang disokong Iran di wilayah Irak. Serangan tersebut merupakan balasan atas dugaan keterlibatan kelompok itu dalam serangan drone terhadap fasilitas minyak milik Arab Saudi. Ketegangan makin memuncak setelah militer Amerika mengklaim berhasil menggagalkan upaya serangan mendadak Iran terhadap pasukannya di kawasan, sementara Iran mengaku telah menyerang sejumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz serta pangkalan militer AS di Yordania.
Konflik juga merembet ke Mesir, di mana sebuah pelabuhan pemuatan gas alam di pesisir Mediterania dilaporkan diguncang ledakan. Perusahaan keamanan maritim Ambrey menyebut kapal penyimpanan terapung milik Amerika di lokasi itu turut menjadi sasaran serangan drone.
Analis pasar energi Again Capital, John Kilduff, menilai pelaku pasar tengah bergegas menghitung ulang risiko gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut ke dalam harga minyak.
Situasi kian tegang setelah Presiden AS Donald Trump dalam sebuah wawancara televisi mengisyaratkan potensi serangan lanjutan terhadap Iran. Washington turut menjatuhkan sanksi tambahan terhadap sepuluh entitas dan delapan kapal tanker yang dituding membantu Teheran meraup keuntungan dari jalur Hormuz. Di sisi lain, Iran menolak tawaran mediasi dari Oman terkait pengelolaan bersama selat strategis tersebut.
Faktor fundamental turut memperberat tekanan pasar. Data Administrasi Informasi Energi AS mencatat cadangan minyak mentah negara itu anjlok 7,2 juta barel menjadi 404,5 juta barel pekan lalu, level terendah sejak 2018 dan jauh melampaui prediksi analis yang hanya memperkirakan penurunan sekitar 1,3 juta barel. Ekspektasi bahwa OPEC+ akan menunda kenaikan produksi selama tiga bulan mulai Oktober turut mendorong sentimen bullish di pasar.
Kepala Riset Energi DBS Bank, Suvro Sarkar, memprediksi harga Brent akan terus bergerak fluktuatif di rentang USD80 hingga USD100 per barel selama konflik belum mereda. Sementara itu, spesialis energi TP ICAP, Scott Shelton, mencatat efektivitas blokade di Selat Bab el Mandeb masih jauh lebih rendah dibanding di Hormuz meski arus kapal masuk tercatat lebih tinggi dari yang keluar.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Data International Energy Agency menyebut sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat itu setiap hari atau setara seperlima konsumsi minyak global, dengan mayoritas pasokan mengalir ke negara negara Asia. Jalur ini juga menjadi lintasan lebih dari 110 miliar meter kubik gas alam cair sepanjang 2025, mencakup hampir seluruh volume ekspor LNG Qatar dan Uni Emirat Arab.
Lembaga riset Barclays memperkirakan harga Brent masih berpotensi terus naik apabila kebuntuan di Hormuz berlangsung lama, bahkan bisa melampaui proyeksi dasar mereka jika gangguan pasokan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.
#HargaMinyakDunia #KonflikTimurTengah #SelatHormuz #MinyakBrent #WTI #OPECPlus #KrisisEnergi #GeopoliticalRisk #PasarModal #EkonomiGlobal #OilPrice #MiddleEastConflict #EnergySupply #SanksiIran #MarketWatch






