Vietnam Tinggalkan Indonesia: Erwin Aksa Desak Bangun Pabrik Elektronik dan Sepatu Berteknologi Tinggi di Jawa

Fokus, Nasional191 Dilihat

Jakarta – Di tengah perdebatan soal hilirisasi yang kerap terjebak pada komoditas tambang semata, anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai Golkar Erwin Aksa menyuarakan peringatan yang lebih luas: Indonesia sedang tertinggal dari negara-negara tetangganya dalam membangun industri manufaktur berteknologi tinggi, dan tanpa langkah konkret, ketertinggalan itu akan semakin sulit dikejar.

Erwin menyampaikan pandangannya dalam acara Serap Aspirasi bersama warga Rawa Buaya, Jakarta Barat, sebagai bagian dari reses anggota DPR periode 2024-2029.

Vietnam Melompat Jauh Indonesia Masih Bergumul

Data membenarkan kekhawatiran Erwin. Vietnam mencatat pertumbuhan PDB sebesar 8,02 persen pada 2025 — salah satu tertinggi di dunia — setelah secara disiplin membangun birokrasi yang efektif, menyederhanakan perizinan, dan memberikan insentif fiskal kompetitif bagi investor manufaktur global.

“Mungkin 20 tahun lalu Vietnam ketinggalan dari Indonesia. Tapi kalau kita lihat sekarang, Vietnam luar biasa majunya, begitu pula Thailand dan Malaysia,” kata Erwin di hadapan warga.

Dampaknya sudah terasa di lapangan. Data Kementerian Perindustrian RI mencatat pada periode 2021-2025, lebih dari 30 perusahaan besar dari sektor tekstil, alas kaki, dan elektronik menutup operasi di Indonesia atau mengurangi kapasitas produksi secara signifikan — sebagian besar pindah ke Vietnam dengan alasan biaya produksi lebih murah.

Tiga Pabrik Teknologi Tinggi yang Harus Dibangun

Erwin secara spesifik menyebut tiga jenis industri yang perlu segera dibangun di Pulau Jawa: pabrik elektronik, pabrik sepatu berteknologi tinggi, dan pabrik pakaian berteknologi tinggi.

Menurutnya, pembangunan pabrik-pabrik ini bukan sekadar soal menambah kapasitas produksi, melainkan mendorong peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia secara langsung. Ketika pabrik berteknologi tinggi hadir, kebutuhan akan tenaga kerja terampil meningkat, mendorong pengembangan pendidikan vokasi yang lebih serius dan terstruktur.

Ini konsisten dengan visi Erwin yang selama bertahun-tahun mendorong pengembangan pendidikan vokasi sebagai fondasi daya saing nasional.

Ironi Negara Kaya SDA tapi Masih Impor

Erwin juga menyoroti paradoks yang sudah terlalu lama dibiarkan: Indonesia memiliki sumber daya alam berlimpah — kelapa sawit di Sumatera, batu bara di Kalimantan, nikel di Indonesia Timur — namun belum mampu mengubah kekayaan itu menjadi nilai tambah yang mengangkat kesejahteraan rakyat secara merata.

ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sebesar 5,2 persen pada 2026-2027 — lebih rendah dari Vietnam dan jauh dari target 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo.

“Karena tanpa di-support dengan ekspor yang tinggi, Indonesia sulit mencapai pertumbuhan ekonomi yang dicita-citakan oleh masyarakat dan tentunya Presiden kita,” tegas Erwin.

Konsumsi Rumah Tangga Jangan Dilupakan

Erwin mengingatkan satu hal yang kerap terlupakan dalam diskusi industrialisasi: pertumbuhan ekonomi nasional tidak hanya bergantung pada ekspor dan investasi, tetapi juga sangat ditentukan oleh konsumsi rumah tangga. Ketika daya beli masyarakat tertekan — seperti yang terjadi saat ini akibat inflasi dan pelemahan rupiah — pertumbuhan ekonomi pun ikut terseret ke bawah.

Memperkuat industri manufaktur berteknologi tinggi, dalam pandangan Erwin, adalah jalan dua arah: menciptakan lapangan kerja berkualitas yang pada gilirannya menaikkan daya beli masyarakat, sekaligus mendorong ekspor yang memperkuat neraca perdagangan nasional.

#ErwinAksa #HilirisasiIndonesia #PabrikTeknologiTinggi #IndustrialisasiRI #VietnamVsIndonesia #GolkarDPR #ManufakturIndonesia #EksporIndonesia #SDMIndonesia #PendidikanVokasi #DayaSaingEkonomi #PertumbuhanEkonomi8Persen #UMKMRI #EkonomiIndonesia2026 #KomisiVIIIDPR