Washington – Dari atas pesawat di Pangkalan Udara Dover, peti mati berbalut bendera Amerika terus berdatangan. Namun angka yang tersaji di laman resmi Pentagon tampaknya bercerita lain jauh lebih kecil dari apa yang sesungguhnya terjadi di medan perang Timur Tengah.
Itulah inti dari kontroversi yang kini mengguncang Washington: tuduhan bahwa Departemen Pertahanan Amerika Serikat secara sistematis memanipulasi data korban jiwa dan korban luka dalam konflik bersenjata melawan Iran.
Investigasi awal dilakukan oleh media independen The Intercept, yang mengutip seorang pejabat pertahanan senior. Menurut laporan tersebut, Pentagon mengirimkan angka korban yang diremehkan dan sudah kadaluarsa, serta gagal memberikan klarifikasi atas kematian dan cedera militer yang sesungguhnya terjadi.
Temuan ini kemudian diperkuat oleh analis militer Rusia-Amerika, Andrei Martyanov, dalam sebuah podcast di channel Dialogue Works. Martyanov yang dikenal sebagai pengkritik keras kebijakan pertahanan Washington menegaskan bahwa Pentagon secara konsisten menggunakan pola yang sama dalam setiap konflik: memperkecil angka kematian untuk meredam tekanan publik dan Kongres.
Hingga 20 April 2026, Pentagon secara resmi merilis data sebanyak 415 personel militer AS mengalami luka-luka sejak dimulainya Operation Epic Fury, dengan 13 anggota militer dinyatakan tewas dalam tugas.
Namun angka itu menyimpan kejanggalan serius. Pada hari gencatan senjata diberlakukan antara Iran dan AS (8 April 2026), total korban luka dan tewas tercatat 385 orang. Angka itu sempat naik perlahan menjadi 428 tetapi beberapa hari kemudian, jumlah korban luka tiba-tiba berkurang 15 orang tanpa penjelasan resmi, turun menjadi 413.
Pejabat Pentagon yang dikutip The Intercept menyebut langsung: “Angka-angka ini jelas penting. Bahwa mereka tidak mau publik memilikinya menunjukkan sesuatu. Itulah definisi dari cover-up.”
Salah satu kasus paling mencolok adalah soal Mayor Sorffly Davius. Perwira komunikasi dari New York Army National Guard ini meninggal saat bertugas di Camp Buehring, Kuwait, pada 6 Maret 2026. Anggota Kongres Mike Lawler dari Partai Republik menyebutnya dalam upacara peringatan: “Ia gugur saat dikerahkan ke Kuwait dalam rangka Operation Epic Fury.” Ketua Joint Chiefs of Staff juga secara terbuka mengakui kematian Davius. Namun hingga berminggu-minggu kemudian, nama Davius tetap absen dari daftar korban resmi Pentagon.
CENTCOM melaporkan bahwa Iran menembakkan lebih dari 500 rudal balistik dan mengerahkan lebih dari 2.000 drone dalam serangan balasannya di seluruh Timur Tengah. Target serangan mencakup pangkalan militer AS di Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, Yordania, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Enam tentara AS tewas sekaligus dalam satu serangan drone di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait, pada 1 Maret 2026. Mereka adalah:
- Kapten Cody A. Khork
- Sersan 1 Noah L. Tietjens
- Sersan 2 Nicole M. Amor
- Sersan Declan J. Coady
- Kepala Perwira Warrant 3 Robert Marzan
- Mayor Jeffrey O’Brien
Seluruhnya dari Komando Logistik ke-103 yang berbasis di Des Moines, Iowa. Sementara itu, IRGC mengklaim angka yang jauh lebih besar. Juru Bicara IRGC, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, memperkirakan sekitar 650 tentara AS gugur hanya dalam dua hari pertama perang, dengan korban di Bahrain saja disebut mencapai sekitar 160 orang. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Konflik AS-Iran kini berada dalam wilayah abu-abu: aktif secara militer, namun kabur secara politik. Tidak ada deklarasi perang resmi, namun korban terus berjatuhan. Sejarah menunjukkan bahwa angka korban kerap menjadi titik balik opini publik, terutama ketika keterlibatan militer tidak disertai mandat formal dari Kongres.
Trump sendiri dalam sebuah wawancara berulang kali menyebut angka 13 prajurit tewas tepat sesuai versi resmi Pentagon. Sebuah konsistensi yang bagi para pengkritik justru terasa mencurigakan.
Andrei Martyanov dalam analisanya menyebut pola ini sebagai “taktik kotor Pentagon yang selalu berulang” menggugurkan istilah korban perang, mengecilkan angka, dan mengandalkan siklus berita yang cepat berlalu agar publik tidak sempat menghitung.
Pertanyaannya kini bukan sekadar berapa banyak tentara AS yang sesungguhnya tewas di Timur Tengah. Pertanyaan yang lebih besar adalah: seberapa jauh sebuah pemerintahan bersedia berbohong kepada rakyatnya sendiri demi melanjutkan sebuah perang?
#PentagonCoverup #KorbanPerangIran #OperasiEpicFury #PerangIran2026 #TentarasAS #DataKorban #IRGC #TimurTengah #AndreiMartyanov #DialogueWorks #TheIntercept #ManipulasiData #GeopolitikDunia






