Jakarta – Di tengah lautan mata uang Asia yang mayoritas melemah, rupiah tampil sebagai pengecualian yang menyegarkan di awal bulan Juni. Mata uang Garuda mencatatkan penguatan pada perdagangan Senin pagi ini sebuah sinyal positif yang disambut lega, meski para analis mengingatkan bahwa jalan menuju stabilitas masih penuh rintangan.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.02 WIB di pasar spot exchange, rupiah melesat 25 poin atau setara 0,14 persen ke level Rp 17.856 per dolar AS. Ini merupakan pembalikan arah setelah pada penutupan Jumat (29/5/2026) rupiah melemah 35 poin ke posisi Rp 17.881 per dolar AS.
Penguatan berlanjut sehingga rupiah sempat menyentuh Rp 17.840 per dolar AS setara penguatan 0,25 persen dari penutupan akhir pekan lalu. Pencapaian ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan performa terbaik di kawasan Asia pada sesi perdagangan pagi hari ini.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau naik tipis 0,15 persen ke level 99,06.
Penguatan rupiah bertahan hingga penutupan perdagangan sore. Rupiah ditutup menguat 76 poin terhadap dolar AS di level Rp 17.805 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.880. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mencatat penguatan sempat mencapai 95 poin sebelum akhirnya stabil di angka 76 poin pada penutupan.
Pergerakan positif rupiah didorong oleh stabilisasi indeks dolar AS yang bertahan di kisaran 99,00 setelah penurunan 0,4 persen pada pekan lalu. Pasar juga mulai menimbang kabar bahwa usulan kesepakatan gencatan senjata AS-Iran berpotensi diperpanjang selama 60 hari yang jika terealisasi akan membuka kembali lalu lintas Selat Hormuz secara lebih normal dan menekan harga minyak dunia.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan: “Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS oleh turunnya harga minyak mentah dunia.”
Selain itu, kebijakan baru pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan 100 persen DHE direpatriasi mulai Juni 2026 turut memberikan sentimen positif bagi pasokan valuta asing domestik yang dalam jangka menengah diharapkan memperkuat fondasi nilai tukar.
Pergerakan mata uang Asia pada hari ini cenderung bervariasi. Aktivitas transaksi di kawasan juga relatif lebih sepi karena beberapa negara sedang menjalani libur nasional. Dolar AS menguat 0,5 persen terhadap won Korea Selatan ke level 1.514,70 won. Sebaliknya melemah 0,2 persen terhadap dolar Taiwan yang diperdagangkan di level 31,345.
Penguatan hari ini belum cukup untuk membuat pelaku pasar bisa bernapas lega sepenuhnya. Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada Selasa (2/6/2026) masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.850 per dolar AS. Dari faktor eksternal, pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi gencatan senjata permanen AS-Iran yang hingga kini belum menunjukkan kemajuan berarti. Pelaku pasar juga menunggu pidato para pejabat Federal Reserve serta sejumlah data ekonomi AS terutama indikator pasar tenaga kerja.
Di sisi domestik, investor juga mengantisipasi rilis data inflasi dan perdagangan yang dijadwalkan keluar besok, dua indikator yang berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah jika hasilnya di luar ekspektasi pasar.
Dalam proyeksi lebih jauh, Ibrahim sebelumnya memperkirakan rupiah berpotensi menembus Rp 18.150 per dolar AS pada pekan pertama Juni jika ketidakpastian geopolitik Timur Tengah terus berlanjut tanpa resolusi yang jelas.
Rupiah hari ini memang menang satu ronde. Tapi pertandingan sesungguhnya baru saja dimulai.
#RupiahMenguat #NilaiTukarRupiah #KursRupiah #RupiahJuni2026 #DolarVsRupiah #IbrahimAssuaibi #LukmanLeong #DHE #GencatanSenjataIran #SelasHormuz #PasarValuta #MatauangAsia #ForexIndonesia #EkonomiIndonesia #StabilitasRupiah #BankIndonesia #InflasiDomestik #FederalReserve #PasarKeuangan #TrazeAndalanFutures






