Oleh: Fadhil As. Mubarok | Chairman of Mubarok Institute
Di era di mana informasi bisa menyebar dalam hitungan detik, ruang digital Indonesia sedang menghadapi ancaman yang tidak kalah berbahayanya dari ancaman fisik gelombang disinformasi terstruktur yang dirancang secara taktis untuk meruntuhkan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Sepanjang Mei 2026, sederet narasi palsu beredar masif mulai dari manipulasi data ekonomi, pemelintiran kebijakan publik, hingga fitnah personal kepala negara. Namun satu per satu, fakta membantahnya.
Narasi paling masif yang menyerang sepanjang Mei 2026 adalah klaim bahwa pelemahan rupiah merupakan bukti kegagalan total pemerintahan Prabowo. Faktanya, di tengah tekanan pasar yang masih tinggi, rupiah berada di kisaran Rp 17.600 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026. Angka itu memang berat, namun konteks globalnya sering sengaja dihilangkan dari narasi disinformasi.
Data komparatif nilai tukar global per 30 Mei 2026 yang dirilis Datatrust justru memperlihatkan gambaran sebaliknya, posisi rupiah yang melemah YTD -6,7% dan 1Y -8,8% terbukti jauh lebih resiliensi dibanding Turki yang ambruk 1Y -14,1%, Argentina 1Y -15,6%, bahkan India yang terkoreksi 1Y -10,0%. Tekanan akibat konflik Iran juga mulai terasa di negara-negara Asia lainnya, dengan India misalnya menghadapi tekanan serupa yang membuat Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin guna menopang rupiah.
Lebih jauh, IHSG pernah mencatatkan rekor all-time high di level 9.100 sejak pelantikan Prabowo di posisi 7.700 — sebuah lompatan lebih dari 18 persen yang tidak pernah masuk dalam narasi para penyebar disinformasi.
Pergerakan pasar saham Indonesia mendadak jadi sorotan publik usai IHSG disebut langsung berbalik melemah saat Presiden Prabowo menyampaikan pidato terkait kebijakan komoditas dan hilirisasi pada Rabu, 20 Mei 2026. Momen itu ramai dibahas di media sosial setelah tayangan televisi memperlihatkan pidato Prabowo berdampingan dengan pergerakan live IHSG yang tiba-tiba turun. Salah satu unggahan yang viral: “Cuma butuh 47 menit bagi Presiden Prabowo berpidato untuk MENURUNKAN IHSG 64 poin.”
Padahal, “pergerakan IHSG hari itu dipengaruhi kombinasi beberapa sentimen besar, mulai dari pidato Presiden, keputusan suku bunga Bank Indonesia, hingga isu pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis,” kata analis Elandry. Mereduksi semua itu menjadi “Prabowo pidato, IHSG jatuh” adalah penyesatan yang disengaja.
Salah satu hoaks paling kreatif Mei 2026 adalah klaim bahwa Presiden Prabowo “dibatalkan” kunjungannya ke Italia, Austria, dan Hungaria karena tidak ada pemimpin negara-negara itu yang bersedia menerima. Narasi ini dirancang untuk menciptakan ilusi isolasi diplomatik Indonesia di panggung internasional.
Faktanya: kunjungan ke ketiga negara tersebut memang belum pernah dijadwalkan sama sekali di tahun 2026. Sedangkan kunjungan ke Prancis yang benar-benar terjadi justru menghasilkan pencapaian nyata, empat kesepakatan komersial senilai USD 3,5 miliar dan peresmian France–Indonesia High Level Business Council yang melibatkan 30 pemimpin industri dengan total kapitalisasi pasar USD 1,3 triliun. Agenda Paris pun sudah diumumkan resmi oleh Menteri Luar Negeri sejak 22 April 2026 bukan kunjungan mendadak seperti yang dinarasikan.
Disinformasi lain menyerang isu personal: sapi kurban presiden diklaim dibiayai APBN secara tidak sah dan diberi label khusus untuk kepentingan pencitraan. Padahal, program “Bantuan Kemasyarakatan Presiden Berupa Sapi” adalah program resmi yang sudah dianggarkan dalam APBN sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bukan kebijakan baru yang lahir di era Prabowo.
Disinformasi di sektor pendidikan juga tak kalah masif. Kebijakan pengenalan bahasa asing Inggris, Portugis, dan Prancis di sekolah dicitrakan sebagai pemaksaan yang tidak realistis. Faktanya, kebijakan ini bukan untuk mencetak siswa sekelas penutur asli, melainkan introduksi strategis untuk memantik wawasan global dan semangat kompetisi internasional sejak dini. Untuk menjembatani keterbatasan tenaga pengajar di daerah terpencil, pemerintah menghadirkan Interactive Flat Panel (IFP) di sekolah-sekolah seluruh Indonesia sebuah inovasi yang hari ini justru ramai dibagikan dengan bangga oleh para guru di media sosial melalui tagar #IFP.
Jika ditelaah satu per satu, semua narasi disinformasi Mei 2026 memiliki satu benang merah: mengonstruksi persepsi kegagalan sistemik yang tidak berdasar data. Bahkan hingga level yang paling absurd, seperti narasi yang mengklaim Indonesia menjual beras ke Malaysia dengan harga Rp 10.000 per kilogram sebuah kebohongan yang langsung terbantah oleh data resmi perdagangan.
Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 191 dan 217 mengingatkan dengan keras bahwa “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan” sebuah alarm moral yang sangat relevan di era di mana satu unggahan palsu bisa membakar kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Melawan disinformasi bukan sekadar tugas pemerintah. Ia adalah kewajiban moral setiap warga negara yang peduli pada masa depan bangsanya.
#LawanDisinformasi #HoaksMei2026 #FactCheck #RupiahResiliensi #IHSGAllTimeHigh #DisinformasiEkonomi #LiterasiDigital #AntiHoaks #PrabowoDiplomasi #KunjunganParis #SapiKurbanAPBN #IFPSekolah #BahasaAsing #GerakanAntiHoaks #RuangDigitalSehat #FitnahLebihKejam #InfoValid #IndonesiaBerdaulat #DataVsHoaks #NarasiPalsu2026






