Teheran/Abu Dhabi — Hubungan Iran dan Uni Emirat Arab kembali menjadi sorotan setelah meningkatnya ancaman dan serangan dalam konflik kawasan Teluk. Di tengah konflik yang intens dengan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, tampaknya Teheran meningkatkan tekanan terhadap UEA dengan lebih banyak tekanan politik dan militer.
Sejumlah pakar menilai tindakan Iran terhadap UEA tidak terjadi secara acak. Faktor strategis yang dimiliki negara kaya minyak ini menjadikannya peran penting dalam konflik regional yang semakin sering terjadi. Salah satu alasan utama meningkatnya ketegangan adalah Iran menyalahkan UEA karena terlalu nyaman dengan AS dan Israel dalam hal militer, mata-mata, dan menjaga perdamaian di kawasan. Pemerintah Iran telah secara terbuka memperingatkan bahwa negara-negara Teluk mana pun yang membantu AS atau Israel dalam hal militer dapat dilihat sebagai basis musuh. Klaim yang berani ini menyusul peningkatan gerakan militer Barat di Teluk dan Selat Hormuz.
Iran menilai hubungan strategis antara Abu Dhabi dan Tel Aviv berpotensi mengancam keamanan kawasan, terutama pasca normalisasi hubungan diplomatik UEA-Israel dalam beberapa tahun terakhir. Lokasi UEA di dekat Selat Hormuz, jalur perairan utama untuk pengiriman minyak global, sering kali menempatkan UEA di tengah konflik. Iran menganggap wilayah tersebut cukup rentan secara geopolitik. Ketika keadaan menjadi lebih intens, tempat-tempat seperti Fujairah di UEA ternyata menjadi tempat utama karena merupakan pusat perdagangan global dan pergerakan energi.
Teheran telah memperingatkan bahwa jika konflik meningkat, pasukan Iran akan menutup semua pengiriman di Selat Hormuz. Dalam berbagai berita Timur Tengah, Iran menyalahkan UEA karena memainkan peran licik dalam konflik jangka panjang yang berlangsung selama lebih dari sebulan antara Iran, sekutu Amerika, dan Israel. UEA dikabarkan menawarkan bantuan logistik dan titik masuk strategis kepada negara-negara Barat di wilayah tersebut. Meskipun pemerintah Abu Dhabi menyangkal campur tangan langsung, kedekatannya dengan Washington dan Tel Aviv membuat Iran semakin curiga.
Beberapa minggu terakhir telah terjadi serangkaian serangan pesawat tak berawak dan gangguan fasilitas energi di UEA, semuanya terkait dengan keadaan yang semakin intens. Selain persoalan militer, rivalitas kedua negara juga bersumber dari persaingan ekonomi. UEA telah lama menjadi tujuan perdagangan dan keuangan di Teluk, dan merupakan jalur utama untuk bisnis global dengan Iran. Namun ketika sanksi Barat terhadap Teheran semakin ketat, hal ini juga memberikan tekanan pada hubungan ekonomi di antara mereka.
Iran berpendapat bahwa serangkaian kebijakan dari UEA mengenai pembatasan bisnis dan kontrol perdagangan telah membuat perekonomian mereka lebih sulit, terutama dengan adanya tekanan perang dan larangan perdagangan global.
Bahaya yang semakin besar dari Iran terhadap UEA menyebabkan banyak negara khawatir bahwa ketegangan ini bisa berubah menjadi pertarungan besar di Timur Tengah. Jika negara-negara Teluk terlibat langsung, terdapat beberapa sektor yang terdampak antara lain:
- Harga minyak dunia
- Jalur perdagangan internasional
- Perekonomian global
- Terhadap keamanan energi di banyak negara
Negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi dan Mesir, saat ini memantau perkembangan situasi dengan sangat hati-hati. Ketegangan antara Iran dan UEA bukan hanya masalah politik biasa; namun juga mengenai siapa yang memiliki keunggulan militer, kendali atas jalur energi, dan posisi-posisi penting di Teluk. UEA berada dalam posisi yang sulit di tengah konflik panas Iran-AS-Israel: UEA adalah sekutu utama Barat, namun berada di tengah-tengah banyak hal, cukup dekat dengan konflik sehingga perang besar di Timur Tengah bisa pecah kapan saja.





