DUKA DARI TANAH SUCI: 20 JEMAAH HAJI INDONESIA GUGUR, SATU MENINGGAL SEBELUM MENDARAT DI ARAB SAUDI

Fokus, Internasional20 Dilihat

MAKKAH — Kabar duka terus mengalir dari Tanah Suci. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia mencatat bertambahnya angka kematian jemaah haji Indonesia dalam penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, dengan total korban jiwa kini mencapai 20 orang sejak operasional dimulai.

Juru Bicara Kemenhaj Ichsan Marsha mengungkapkan, pada Jumat 8 Mei 2026 terdapat empat jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia di Arab Saudi. Mereka adalah Ngadikin Harjowiyono (56 tahun) asal Kulon Progo, Sibiatun Saji (72 tahun) asal Lamongan, Munisah Ijil Muhammad (87 tahun) asal Lombok Tengah, dan Siti Totou Umar (67 tahun) asal Ternate.

Dengan penambahan keempat nama tersebut, jumlah kumulatif jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia di wilayah Arab Saudi kini resmi tercatat sebanyak 20 orang.

Di luar keempat nama di atas, terdapat satu jemaah yang meninggal dunia dalam perjalanan, bahkan sebelum pesawat yang membawanya mendarat di Arab Saudi.

Jemaah tersebut bernama Sutrisno Agus Widodo, anggota kloter SOC 46 asal Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Almarhum mengalami kondisi kritis di tengah penerbangan dari Solo menuju Arab Saudi, sehingga maskapai terpaksa melakukan pendaratan darurat teknis di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, agar korban segera mendapat penanganan medis. Setelah dirujuk ke RS Amri Tambunan, nyawa almarhum tidak dapat ditolong. Jenazah kemudian diserahterimakan kepada pihak maskapai untuk dipulangkan ke Embarkasi Solo.

Juru Bicara Kemenhaj Ichsan Marsha menyebutkan, penyebab kematian yang paling banyak dijumpai hingga kini adalah penyumbatan pembuluh darah menuju jantung serta radang paru-paru.

Data ini sejalan dengan kondisi cuaca ekstrem yang dihadapi para jemaah. Pelaksanaan ibadah haji tahun 1447 H yang berlangsung antara April hingga Juni bertepatan dengan awal hingga pertengahan musim panas di kawasan Timur Tengah, dengan suhu di Makkah dan Madinah pada siang hari diprediksi menyentuh angka 42 derajat Celsius, bahkan dalam kondisi tertentu dapat mencapai antara 40 hingga 47 derajat Celsius.

Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja Madinah, dr. Enny Nuryanti, mengingatkan bahwa heatstroke merupakan kondisi darurat akibat paparan panas berlebih yang perlu diwaspadai sejak dini, terutama bagi jemaah lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta. Kondisi ini ditandai dengan lonjakan suhu tubuh dan diperburuk oleh aktivitas berlebihan di luar ruangan dalam waktu lama.

Dari sisi layanan kesehatan secara keseluruhan, hingga 8 Mei 2026 tercatat sebanyak 170 jemaah dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), sementara 352 jemaah menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 77 jemaah masih menjalani perawatan intensif. Adapun jumlah jemaah yang mengakses layanan rawat jalan telah mencapai 19.549 orang.

Perjalanan angka kematian ini meningkat secara bertahap sejak awal operasional. Pada 3 Mei 2026, total jemaah yang wafat baru mencapai tujuh orang, dengan dua jemaah terbaru yang wafat di Madinah adalah Siti Sri Rahayu Sanusi asal Kabupaten Pekalongan dan Endar Jaya Purwadi asal Kota Samarinda. Angka itu terus bertambah hingga mencapai 20 dalam hitungan enam hari.

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memastikan pelaksanaan badal haji bagi seluruh jemaah yang meninggal dunia, sebagai pemenuhan hak ibadah mereka yang belum sempat dituntaskan.

Di tengah duka yang menyelimuti, penyelenggaraan secara keseluruhan dilaporkan berjalan lancar. Berdasarkan data dashboard haji 2026 pada Sabtu 9 Mei 2026, sebanyak 120.200 jemaah yang tergabung dalam 310 kelompok terbang (kloter) telah tiba di Tanah Suci, termasuk 2.958 jemaah haji khusus yang mulai berdatangan di Makkah.

Hilirisasi dalam konteks pelayanan haji — mulai dari pergerakan jemaah, layanan kesehatan berlapis, hingga bimbingan ibadah — terus diperkuat untuk memastikan setiap jemaah terlindungi secara optimal menjelang puncak ibadah.

Kemenhaj menegaskan, jemaah diimbau untuk mengatur aktivitas ibadah sesuai kemampuan fisik masing-masing, memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan pelindung diri dari terik matahari, dan segera melapor kepada petugas apabila mengalami gangguan kesehatan. Menjaga kondisi tubuh, menurut Kemenhaj, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesiapan menuju puncak haji.

Dokter kesehatan di lapangan secara khusus menyarankan agar jemaah melaksanakan salat Zuhur dan Asar di dalam hotel, serta memanfaatkan waktu malam untuk pelaksanaan umrah guna menghindari paparan panas yang berbahaya di siang hari. Upaya sederhana seperti minum air secara rutin sekitar 200 ml per jam — tanpa menunggu rasa haus — juga dianjurkan untuk mencegah dehidrasi.

Kemenhaj menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas haji Indonesia yang bekerja tanpa henti siang dan malam demi melayani para tamu Allah, serta kepada seluruh jemaah yang tetap tertib, disiplin, dan taat mengikuti arahan petugas di lapangan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga seluruh jemaah yang telah mendahului mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan serta kelapangan hati.