NAIKKAN BUNGA DEPOSITO DOLAR, RISIKO BARU MENGINTAI RUPIAH

Ekonomi, Fokus280 Dilihat

 

Rencana pemerintah mendorong bank-bank Himbara menaikkan bunga deposito valuta asing (valas) menuai pro dan kontra. Tujuannya memang untuk menarik aliran modal masuk, namun para ekonom memperingatkan: tanpa penciptaan aset dolar produktif, langkah ini bisa berbalik arah.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyebut efek pertama justru terjadi di dalam negeri. “Deposito dolar tinggi bisa bikin nasabah lokal mengalihkan tabungan rupiah ke dolar. Bank memang dapat funding tambahan dalam USD, tapi itu cuma menambah kewajiban, bukan cadangan devisa riil,” jelasnya, Senin (29/9).

Menurutnya, lonjakan permintaan dolar tanpa instrumen penyaluran justru memperbesar beban bunga di masa depan. “Kalau tidak ada kredit atau obligasi dolar untuk menyalurkan dana itu, kita hanya menciptakan liability baru. Itulah masalah kelangkaan aset dolar,” tegasnya.

Fakhrul menilai pelemahan rupiah yang sempat tembus Rp16.700 per USD juga dipengaruhi faktor ini. “Kita butuh lebih banyak dolar hanya untuk bayar bunga, sementara devisa riil tidak bertambah,” ujarnya.

Ia mendorong pemerintah menciptakan instrumen dolar domestik. Obligasi dolar dari BUMN besar seperti Pertamina atau PLN, hingga surat utang pemerintah berdenominasi dolar (INDON), dinilai bisa menyerap likuiditas. Alternatif lain, bank-bank Himbara diarahkan memperluas pembiayaan ekspor atau membuka cabang luar negeri agar dana dolar yang terkumpul produktif.

Beberapa tahun terakhir, pasar justru didominasi obligasi rupiah karena biaya swap murah. Akibatnya, sisi aset dolar makin tipis. “Kalau inflow dolar dipertemukan dengan obligasi atau loan baru, rupiah bukan hanya stabil, tapi bisa kembali menguat ke kisaran Rp16.000 atau bahkan lebih kuat,” ucapnya.

Bagi Fakhrul, inti persoalan bukan sekadar bunga deposito, melainkan ketersediaan aset produktif dalam dolar. “Tanpa itu, setiap tambahan dolar hanya jadi beban bunga. Tapi kalau punya rumah dan proyek di sini, inflow bisa jadi mesin kedaulatan ekonomi,” tandasnya.

Pesannya sederhana: tarik dolar masuk tidak cukup. Pastikan ada ruang produktif agar setiap dolar yang masuk memberi imbal hasil nyata bagi tanah air.