Karang Raja Ampat Mulai Pulih Usai Pemutihan Massal 2024

Fokus, Nasional167 Dilihat

RAJA AMPAT — Terumbu karang di perairan Yenbuba, Raja Ampat, Papua Barat Daya, menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan setelah sempat dilanda pemutihan massal akibat gelombang panas laut terkait fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) pada Desember 2024. Temuan ini diungkap tim peneliti gabungan dalam studi yang dipublikasikan jurnal Scientific Reports, terbitan Nature Publishing Group, Mei 2026.

Penelitian yang dipimpin Eghbert Elvan Ampou dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama Frensly Demianus Hukom, Augy Syahailatua, dan sejumlah peneliti lain dari berbagai institusi, menggunakan metode sensus visual bawah air terstandarisasi untuk memantau kondisi terumbu karang di lereng reef kawasan tersebut, pada kedalaman sekitar 20 hingga 30 meter.

Hasil survei awal mencatat lebih dari 70 persen koloni karang jenis Pachyseris speciosa, spesies dominan di lokasi tersebut, mengalami pemutihan parah saat puncak tekanan panas berlangsung. Namun survei lanjutan yang digelar November 2025 menunjukkan perkembangan positif, dengan tingkat pemutihan yang tersisa pada koloni Pachyseris speciosa menurun drastis hingga di bawah 20 persen, mengindikasikan proses pemulihan dan pewarnaan ulang jaringan karang yang cukup menggembirakan.

Temuan di Raja Ampat ini sejalan dengan pola global yang lebih luas. Badan Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA) sebelumnya mengonfirmasi bahwa peristiwa pemutihan karang global keempat telah berlangsung sejak Januari 2023, dengan tingkat tekanan panas yang memicu pemutihan tercatat memengaruhi hampir 85 persen terumbu karang di seluruh dunia hingga September 2025, menjadikannya salah satu krisis ekosistem laut terparah yang pernah tercatat.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan puncak fenomena El Nino kali ini baru akan terjadi pada Desember 2026, dengan suhu permukaan laut saat ini tercatat lebih tinggi dibanding kondisi tahun 2023, saat El Nino kuat sebelumnya tengah berkembang. Peningkatan suhu laut berkepanjangan ini mengganggu hubungan simbiosis vital antara karang dan alga Symbiodiniaceae yang hidup di jaringannya, memaksa karang mengusir alga tersebut hingga kehilangan warna dan sumber nutrisi utamanya.

Para peneliti mengingatkan bahwa ancaman gelombang panas laut yang berkelanjutan tidak hanya membahayakan keseimbangan ekosistem terumbu karang, salah satu habitat dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Bumi, tetapi juga berpotensi mengancam mata pencarian masyarakat nelayan dan keberlangsungan industri perikanan di kawasan sekitar Raja Ampat maupun wilayah pesisir Indonesia lainnya secara lebih luas.

#PemutihanKarang #RajaAmpat #ElNino #CoralBleaching #BRIN #EghbertAmpou #ENSO #TerumbuKarang #PerubahanIklim #BeritaLingkungan