Ancaman Downgrade MSCI Seret IHSG Jatuh Terparah Sejak 1998

Ekonomi, Fokus, Nasional52 Dilihat

JAKARTA — Pasar modal Indonesia diguncang kepanikan luar biasa pada penutupan perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 678,67 poin atau 11,57 persen ke level 5.185,11, mencatatkan penurunan harian terdalam dalam hampir tiga dekade terakhir, sejak krisis moneter Januari 1998.

Tekanan jual masif terlihat sejak pembukaan sesi perdagangan, dengan IHSG langsung dibuka anjlok di level 5.393,92. Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat menghentikan sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit setelah indeks terjerembab lebih dari 8 persen pada sesi pagi. Namun begitu perdagangan kembali dibuka, tekanan jual justru semakin membesar, menyeret IHSG ke titik terendah hari itu di level 5.185,11, yang sekaligus menjadi level penutupan.

Dari total saham yang diperdagangkan, hanya segelintir saham, sekitar 10 hingga 11 emiten, yang berhasil bertahan di zona hijau. Sebaliknya, mayoritas mutlak, mencapai 775 hingga 812 saham, ditutup melemah, dengan nilai transaksi harian mencapai Rp31,91 triliun. Kejatuhan ini melanda hampir seluruh sektor, dipimpin sektor infrastruktur yang anjlok sekitar 13 hingga 14 persen, disusul sektor material dasar dan kesehatan yang sama-sama terkoreksi di atas 13 persen.

Saham-saham berkapitalisasi besar perbankan turut menjadi korban utama aksi jual. Saham Bank Central Asia (BBCA) anjlok 14,81 persen menjadi Rp5.175, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) melemah 14,84 persen ke Rp2.640, Bank Mandiri (BMRI) turun 14,82 persen ke Rp3.390, sementara Bank Negara Indonesia (BBNI) terkoreksi 12,90 persen ke Rp2.970. Di luar sektor perbankan, saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) bahkan ambles hingga 15 persen ke Rp1.190.

Pemicu utama di balik kejatuhan dahsyat ini adalah pengumuman lembaga penyedia indeks global MSCI pada 15 Oktober, yang membuka konsultasi publik terkait usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market. MSCI menegaskan bahwa persoalan likuiditas pasar Indonesia kini tidak lagi dapat dijelaskan semata sebagai keterbatasan teknis biasa. Keputusan final MSCI atas usulan tersebut baru akan diumumkan pada akhir Juni 2027.

Berbeda dari krisis moneter 1998 yang dipicu gejolak ekonomi makro domestik, tekanan kali ini murni berasal dari kekhawatiran pasar atas potensi penurunan status Indonesia di mata investor global. Hal ini tercermin dari kontrasnya pergerakan bursa regional, di mana indeks KOSPI Korea Selatan justru menguat sekitar 2,5 persen pada hari yang sama. Imbas kejatuhan ini turut menyeret nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level Rp18.053 per dolar Amerika Serikat.

Merespons gejolak ini, sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dan Ketua Otoritas Jasa Keuangan, langsung menyambangi Bursa Efek Indonesia untuk mendalami situasi, sementara BEI menegaskan rencana memperketat transparansi informasi saham guna meredam kepanikan pasar dalam beberapa hari ke depan.

#IHSGAmbruk #MSCI #KrisisPasarModal #BursaEfekIndonesia #RupiahMelemah #SahamPerbankan #StandaloneMarket #KrisisMoneter1998 #OJK #BeritaEkonomi