Oleh: Fadhil As. Mubarok | CEO. Mubarok Institute
Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan orasi ilmiah penuh refleksi dalam perayaan Dies Natalis ke-68 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (FISIP Unpad), bertempat di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Selasa, 13 Oktober 2026. Mengusung tema “FISIP Unpad untuk Indonesia: Merawat Integritas, Menggerakkan Inovasi, dan Membangun Kolaborasi”, SBY membagikan pandangannya soal konstitusi, demokrasi, hingga masa depan bangsa.
Di hadapan guru besar, dosen, mahasiswa, dan Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, SBY menegaskan terlebih dulu bahwa kehadirannya murni untuk menyampaikan orasi akademis, bukan orasi politik. Sebagai mantan perwira tinggi militer, ia menyatakan dukungan tulusnya terhadap sistem demokrasi, dengan menegaskan bahwa meski demokrasi punya kekurangan, sistem tersebut tetap menjadi pilihan terbaik dibanding sistem politik mana pun. Ia mengingatkan bahwa demokrasi tidak memiliki satu bentuk baku yang cocok untuk semua negara, sehingga penerapannya di Indonesia perlu menyesuaikan sejarah dan budaya bangsa sendiri, dengan tetap berpegang pada nilai universal seperti kedaulatan rakyat, konstitusionalisme, checks and balances, pemilu bebas dan adil, serta supremasi hukum.
Soal konstitusi, SBY menegaskan UUD 1945 merupakan jangkar sekaligus tiang penyangga kehidupan bernegara yang mengatur relasi kekuasaan, peran lembaga negara, kebebasan sipil, hingga stabilitas nasional, sehingga tidak boleh dilanggar atau dirusak oleh siapa pun.
SBY turut mengenang pengalaman pribadinya selama sepuluh tahun menjabat Presiden periode 2004-2014, kala kerap menghadapi gelombang demonstrasi. Ia menegaskan bahwa suara rakyat lewat unjuk rasa harus didengar, karena ketidakpedulian terhadap aspirasi publik berisiko menjatuhkan kekuasaan seorang pemimpin. Pesan ini disampaikannya saat menanggapi cerita Rektor Unpad soal demonstrasi mahasiswa yang kerap terjadi di depan ruang kerjanya.
Dalam paparannya, SBY turut menyinggung relevansi Pancasila sebagai ideologi hidup yang harus terus dibuktikan menjawab tantangan zaman tanpa dikultuskan, serta menegaskan pilihannya pada sistem presidensial dengan mekanisme checks and balances yang baik, dipadukan dengan bentuk negara kesatuan yang menjunjung desentralisasi dan otonomi daerah yang adil.
Menyoal visi jangka panjang bangsa, SBY menargetkan Indonesia menjadi emerging economy pada 2030, sebelum mencapai status strong nation, strong economy, dan strong democracy pada 2045, dengan empat penentu utama keberhasilan sebuah bangsa, yakni tata kelola institusi negara, ekonomi yang produktif dan adil, modal manusia lewat pendidikan, serta kepemimpinan yang visioner. Ia menutup orasinya dengan menegaskan posisinya kini sebagai seniman yang tak lagi aktif dalam politik praktis, sembari menyerahkan estafet perjuangan bangsa kepada generasi yang lebih muda.
#SBY #OrasiIlmiah #DiesNatalisFISIPUnpad #Demokrasi #Konstitusi #PartaiDemokrat #IndonesiaEmas2045 #Pancasila #ArifKartasasmita #BeritaNasional






