TEHERAN — Iran kembali menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi satu-satunya cara mengakhiri konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel, setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz sekaligus menghentikan pertempuran di kawasan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pihaknya telah menetapkan syarat yang jelas, dengan pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung sepenuhnya pada terpenuhinya tuntutan Teheran tersebut. Lewat unggahan di media sosial, Araghchi menuliskan bahwa hanya solusi lewat negosiasi yang dapat membawa kedua pihak keluar dari kebuntuan yang telah berlangsung berbulan-bulan ini.
Proposal perdamaian tersebut sejatinya telah diumumkan Iran pekan lalu di sela Sidang Umum PBB di New York, dan diteruskan kepada Amerika Serikat lewat mediator Qatar. Namun Trump menyatakan pada Sabtu, 26 September 2026, bahwa ia menolak rencana tersebut, dengan alasan Iran tengah mencari kesepakatan setelah mengalami kerugian besar sepanjang konflik berlangsung. Presiden AS bahkan secara terbuka mempertanyakan apakah opsi diplomasi masih relevan ditempuh, atau justru tindakan militer yang lebih ekstrem perlu diambil.
Merespons tekanan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak sedang mencari peperangan, namun akan tetap mempertahankan diri dari segala bentuk tekanan, ancaman, maupun serangan yang datang. Ia turut menegaskan bahwa Teheran telah menyepakati prinsip untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sebuah pernyataan yang disampaikan di tengah kecurigaan internasional terhadap program nuklir Iran selama ini.
Perang antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel bermula pada 28 Februari 2026, dan sejak saat itu terus berlangsung dalam pola bergantian antara masa jeda dan gelombang serangan baru. Konflik ini telah menewaskan ribuan orang, sekaligus melemahkan kekuatan konvensional militer Iran serta memperparah kondisi perekonomian negara tersebut yang sebelumnya sudah tertekan. Selat Hormuz sendiri kini menjadi pusat pertaruhan utama dalam negosiasi, mengingat jalur perairan strategis itu selama ini menjadi lintasan aliran minyak dunia yang vital, sementara Trump berulang kali mengeklaim Amerika Serikat telah menguasai penuh jalur tersebut.
Kebuntuan diplomatik ini menempatkan nasib Selat Hormuz masih menggantung, dengan para mediator internasional dilaporkan tengah menunggu respons resmi lanjutan dari pihak Washington, di tengah taruhan besar yang dipertaruhkan dalam konflik yang telah berjalan selama tujuh bulan dan terus mengganggu arus perdagangan energi global tersebut.
#SelatHormuz #Iran #DonaldTrump #AbbasAraghchi #MasoudPezeshkian #KonflikASIran #DiplomasiTimurTengah #KrisisEnergi #GeopolitikGlobal #BeritaInternasional






