Oleh: Edwin Soeryadjaya | Owner PT Saratoga Investama Sedaya
Peta Jalan Transformasi SDM Milenial dan Gen Z Berbasis Kepemimpinan Manajerial
Putra pendiri Astra International, Edwin Soeryadjaya, menyerukan pentingnya membangun karakter generasi muda Indonesia yang memadukan kedalaman spiritual dengan kompetensi profesional di tengah gempuran disrupsi digital. Gagasan ini disampaikan dalam acara bedah buku memoar sang ayah, William Soeryadjaya, di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Momentum kegiatan ini bermula dari penyerahan langsung buku memoar William Soeryadjaya oleh Edwin kepada Rektor UIN Sunan Kalijaga, Profesor Noorhaidi Hasan, pada Februari 2026 lalu. Buku tersebut kemudian dikaji dan disebarluaskan di lingkungan akademik kampus, menjadi simbol sinergi antara dunia industri dan perguruan tinggi berbasis nilai keislaman. Rektor Noorhaidi menilai pemikiran mendiang William Soeryadjaya soal keberlanjutan bisnis dan kepasrahan kepada Tuhan sejalan dengan visi besar kampus dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai spiritual.
Dalam paparannya, Edwin menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia masa depan tidak boleh lagi memisahkan nilai ketuhanan dari tuntutan dunia modern yang kompetitif. Ia mendorong pendekatan holistik yang mengawinkan tiga pilar sekaligus, yaitu kedalaman spiritualitas, keunggulan profesional di bidang teknologi, serta keberpihakan nyata terhadap ekonomi rakyat. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya dibekali keterampilan teknis semata, melainkan juga kepekaan sosial dan visi kebangsaan yang kuat, agar keahlian yang mereka kuasai tidak berubah menjadi alat eksploitasi, melainkan instrumen pengabdian bagi kesejahteraan masyarakat luas.
Edwin turut mengangkat kisah legendaris sang ayah sebagai teladan integritas tanpa kompromi, mengenang bagaimana William Soeryadjaya pernah merelakan sebagian besar aset pribadinya demi menuntaskan kewajiban bisnis dan menjaga kepercayaan publik terhadap perusahaan yang dibangunnya. Kisah tersebut, menurutnya, harus menjadi kompas etis bagi calon pemimpin muda Indonesia, sebagai bukti nyata bahwa integritas harus berada di atas segala kepentingan materi.
Selain soal karakter, Edwin turut menyinggung pentingnya budaya perbaikan berkelanjutan atau kaizen sebagai kunci menghadapi generasi digital native yang rentan terhadap kebiasaan serba instan. Ia menilai penguasaan mendalam atas teknologi informasi, hukum bisnis internasional, dan tata kelola korporasi yang baik harus menjadi bekal wajib bagi mahasiswa masa kini, agar mereka memiliki daya tahan mental yang kuat menghadapi persaingan global.
Di penghujung paparannya, Edwin mengajak mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi pencari kerja, melainkan pencipta lapangan kerja baru, sejalan dengan filosofi “Pohon Rindang” yang dipegang teguh sejak Astra berdiri di sebuah kantor kecil di Jalan Sabang, Jakarta, pada 1957. Ia mencontohkan peran Yayasan Dharma Bhakti Astra dalam membina pelaku usaha mikro dan kecil sebagai model nyata kewirausahaan sosial yang bisa diadaptasi generasi muda untuk turut memberdayakan ekonomi masyarakat akar rumput di daerah asal mereka.
#EdwinSoeryadjaya #WilliamSoeryadjaya #AstraInternational #UINSunanKalijaga #BedahBuku #IntegritasBisnis #GenZIndonesia #KewirausahaanSosial #PohonRindang #BeritaEkonomi






