WASHINGTON — Amerika Serikat kembali memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran lewat paket sanksi terbaru yang menyasar puluhan entitas terkait China, langkah yang berpotensi menguji hubungan dagang erat antara Beijing dan Teheran. Kebijakan ini justru dijalankan bersamaan dengan upaya Washington meredakan ketegangan politik dan ekonomi dengan China menjelang pertemuan puncak kedua kepala negara.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent, Senin, 24 Agustus 2026, menyebut paket sanksi terbaru ini sebagai momentum penentu bagi perekonomian Iran, sekaligus memperingatkan bahwa siapa pun yang menjalin hubungan dagang dengan Teheran akan menghadapi kekuatan penuh sanksi Amerika Serikat. Ia menegaskan tidak ada pihak yang kebal dari ancaman tersebut, termasuk kemungkinan menyasar bank-bank besar China, meski hingga kini paket sanksi terbaru belum benar-benar menjangkau institusi perbankan raksasa Tiongkok.
Sejauh ini, fokus sanksi AS lebih menyasar sekitar 60 entitas, individu, dan kapal di China daratan maupun Hong Kong yang dituding membantu jaringan pengadaan teknologi nuklir dan rudal Iran, operasi siber, serta perdagangan minyak yang menjadi tulang punggung pemasukan Teheran. Data menunjukkan China membeli hingga 90 persen ekspor minyak Iran, sebagian besar diproses lewat kilang independen skala kecil yang kerap memanfaatkan perantara untuk mengelabui pelacakan sanksi. Bessent bahkan menyamakan pembelian minyak Iran oleh China sebagai bentuk pendanaan terhadap negara pendukung terorisme terbesar di dunia.
China langsung mengecam langkah tersebut sebagai sanksi sepihak yang tidak berdasar hukum internasional. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menegaskan kerja sama Beijing dengan Teheran selalu berjalan dalam koridor hukum internasional dan tidak boleh diganggu pihak mana pun. Sebelumnya pada Mei lalu, Kementerian Perdagangan China bahkan telah menginstruksikan perusahaan domestik dan kilang independen untuk mengabaikan pembatasan yang diterapkan Washington terhadap sejumlah fasilitas pengolahan minyak tersebut.
Analis senior Asia Timur Laut dari International Crisis Group, William Yang, menilai Iran tetap menjadi mitra penting bagi China meski bukan mitra yang tidak tergantikan, mengingat Beijing terus memperluas hubungan dengan negara-negara Teluk lainnya. Sementara itu, Direktur Pusat Studi Global Universitas Bonn, Gu Xuewu, menilai serangkaian kendala yang dihadapi militer AS selama perang melawan Iran turut mengikis kepercayaan terhadap jaminan keamanan Washington di kawasan tersebut, sehingga Beijing dinilai tidak akan mudah tunduk pada tekanan untuk memutus hubungan dagangnya dengan Teheran.
Dinamika ini menjadi semakin kompleks mengingat Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden AS Donald Trump di Washington pada 24 September mendatang, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut dijadwalkan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai di Kirgistan pada akhir Agustus. Yang menilai baik Washington maupun Beijing kemungkinan besar menahan diri dari langkah drastis terkait Iran demi menjaga kelancaran pertemuan puncak yang telah lama dipersiapkan tersebut, meski Gu Xuewu memperkirakan Beijing tetap akan membalas apabila sanksi sekunder benar-benar menyasar perusahaan atau bank besar China di kemudian hari.
#SanksiASIran #China #ScottBessent #XiJinping #DonaldTrump #KonflikASIran #DiplomasiChinaAS #EkonomiIran #GeopolitikGlobal #BeritaInternasional






