Iran Iming Iming Hadiah dan Museum untuk Pembunuh Tentara AS

TEHERAN — Angkatan Darat Iran kembali melontarkan ancaman provokatif terhadap Amerika Serikat, kali ini lewat pengumuman resmi berupa imbalan finansial bagi siapa pun yang berhasil membunuh atau menangkap prajurit AS dalam skenario invasi darat ke wilayah Iran. Kebijakan kontroversial ini diumumkan Panglima Angkatan Darat Iran Mayor Jenderal Amir Hatami, sebagaimana dilaporkan kantor berita semiresmi Iran, IRNA, pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Menurut Hatami, siapa pun anggota angkatan bersenjata atau warga sipil Iran yang secara sah memiliki senjata api berburu, lalu berhasil membunuh atau menangkap tentara Amerika Serikat yang menyerbu wilayah Iran dalam kondisi invasi darat, akan menerima hadiah setara 30 ribu dolar Amerika Serikat atau lima miliar toman, satuan mata uang informal Iran. Ia menyebut kebijakan ini lahir atas banyaknya permintaan warga yang ingin turut ambil bagian dalam apa yang disebutnya sebagai jihad finansial.

Yang menarik perhatian, Hatami menegaskan bahwa nilai hadiah tersebut akan berlipat dua kali lipat menjadi sekitar 60 ribu dolar AS apabila pelakunya adalah perempuan Iran. Sebagai catatan, rata-rata gaji bulanan kotor di Iran berkisar 16 hingga 40 juta toman, sekitar 150 hingga 250 dolar AS, sehingga nilai hadiah tersebut jauh melampaui penghasilan tahunan rata-rata warga Iran.

Tidak berhenti di situ, Hatami turut mengungkap bahwa senjata api yang digunakan dalam aksi tersebut akan dibeli kembali oleh Angkatan Darat dengan harga dua kali lipat dari nilai aslinya. Sebagai gantinya, pelaku akan menerima senjata baru sebagai pengganti, sementara senjata asli yang digunakan akan disimpan secara permanen di sebuah museum khusus yang tengah dipersiapkan, sebagai bentuk penghormatan sejarah abadi yang mencantumkan nama pemiliknya.

Hatami turut menggunakan kesempatan tersebut untuk menegaskan kembali sikap keras Iran, menyatakan bahwa perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah membuktikan kegagalan berbagai klaim kekuatan militer Amerika Serikat. Ia kembali mengulang tuntutan Teheran agar Washington menarik seluruh pasukannya dari kawasan Timur Tengah, sekaligus mempertegas bahwa pasukan AS tidak lagi diizinkan memasuki Teluk Persia, Teluk Oman, maupun Selat Hormuz.

Meski retorika ancaman ini terdengar mengerikan, sejumlah kalangan pengamat menyoroti minimnya kejelasan waktu maupun lokasi realisasi kebijakan tersebut. Berdasarkan laporan media Amerika Serikat, sejak konflik antara AS dan Israel melawan Iran meletus akhir Februari lalu, total 18 tentara AS dilaporkan tewas, namun seluruhnya terjadi di luar wilayah teritorial Iran, sehingga skenario invasi darat yang menjadi dasar kebijakan hadiah ini sejauh ini belum pernah benar-benar terwujud.

Pengumuman berulang semacam ini menambah daftar panjang retorika keras Iran di tengah kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat, sekaligus mengindikasikan strategi pesan domestik untuk menunjukkan kesiapan mobilisasi rakyat menghadapi kemungkinan eskalasi konflik lebih lanjut.

#Iran #AmerikaSerikat #KonflikASIran #AmirHatami #HadiahMembunuhTentara #PerangTimurTengah #GeopolitikGlobal #TentaraAS #JihadFinansial #BeritaInternasional