Yen Anjlok: AS dan Jepang Diduga Intervensi Bersama

Jakarta – Kabar mengejutkan datang dari pasar valuta asing global. Amerika Serikat dan Jepang dilaporkan turun tangan bersama untuk menahan pelemahan tajam mata uang yen, yang sempat terperosok ke titik terendah dalam hampir empat dekade terakhir. Jika terkonfirmasi, langkah ini akan menjadi intervensi terkoordinasi pertama kedua negara sejak krisis keuangan Asia tahun 1998, sebagaimana dilaporkan Financial Times dan dikutip AFP pada akhir pekan lalu.

Yen sempat anjlok hingga menembus level 163,24 per dolar AS bulan lalu, titik terlemah sejak tahun 1986. Pelemahan drastis ini dipicu perpaduan sejumlah faktor, mulai dari suku bunga Amerika Serikat yang bertahan tinggi, melonjaknya harga minyak dunia, hingga derasnya arus modal yang mengalir keluar dari Jepang menuju aset aset berimbal hasil lebih menggiurkan di negara lain.

Berdasarkan sumber yang mengetahui langsung transaksi tersebut, Federal Reserve Bank of New York dilaporkan menjual mata uang euro guna membeli yen atas nama Departemen Keuangan Amerika Serikat pada Jumat pekan lalu. Transaksi besar itu disebut dieksekusi melalui dua bank investasi raksasa, Goldman Sachs dan Morgan Stanley.

Langkah dari Washington ini muncul tak lama setelah yen tiba tiba menguat drastis pekan lalu, yang langsung memunculkan dugaan bahwa otoritas moneter Jepang turut melakukan intervensi serupa di pasar. Pada perdagangan Jumat, yen bergerak di kisaran 160,53 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya sempat menguat mendekati level 158 per dolar.

Kepala Strategi SPI Asset Management, Stephen Innes, mengakui belum ada kepastian keterlibatan langsung otoritas Jepang, namun menyoroti kemiripan pola pergerakan harga saat ini dengan intervensi intervensi sebelumnya. “Apakah Tokyo benar benar terlibat masih belum jelas, tetapi pergerakan harga memiliki pola yang sangat mirip dengan intervensi sebelumnya,” ujarnya dalam catatan analisisnya.

Perkiraan nilai dana yang digelontorkan otoritas Jepang pun bervariasi antar lembaga. Sejumlah analis yang dikutip Financial Times memperkirakan angkanya mencapai sekitar 8,45 triliun yen atau setara US$52,8 miliar, sementara harian bisnis Nikkei memproyeksikan kisaran yang sedikit lebih rendah, yaitu antara 6 triliun hingga 7 triliun yen.

Para pengamat pasar menilai akar persoalan pelemahan yen selama berbulan bulan terakhir tidak lepas dari kekhawatiran atas kondisi fiskal Jepang serta lonjakan harga energi global. Namun faktor paling dominan tetap berasal dari lebarnya kesenjangan suku bunga antara Jepang dengan Amerika Serikat dan negara negara maju lainnya, terlebih pasar kini memperkirakan Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga sekali lagi sebelum tahun ini berakhir.

Kesenjangan suku bunga yang lebar itu mendorong maraknya praktik carry trade, yaitu strategi investor meminjam dana murah dalam yen untuk ditanamkan pada aset berimbal hasil lebih tinggi di luar negeri. Praktik inilah yang memperderas arus modal keluar dari Jepang dan menambah beban tekanan terhadap nilai tukar yen.

Hingga laporan ini diturunkan, baik otoritas moneter Jepang maupun pemerintah Amerika Serikat belum memberikan konfirmasi resmi atas kabar intervensi bersama tersebut.

#IntervensiYen #YenJepang #DolarAS #FederalReserve #PasarValas #EkonomiGlobal #CarryTrade #BankOfJapan #JapanEconomy #ForexMarket #KeuanganInternasional #SukuBunga #GoldmanSachs #MorganStanley #CurrencyIntervention