Dua Kali Usir Wartawan: Prabowo Bicara Lima Jam Tertutup di Hadapan 2.600 Rektor dan Dosen

Fokus, Nasional307 Dilihat

Jakarta – Sebuah forum pendidikan tinggi terbesar yang digelar pemerintah tahun ini berubah menjadi sesi tertutup yang penuh teka-teki. Presiden Prabowo Subianto sebanyak dua kali meminta wartawan keluar ruangan saat berbicara di hadapan ribuan akademisi dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, 26-28 Juni 2026.

2.600 Peserta, Lima Jam Pidato, Wartawan Diminta Minum Kopi

Acara yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) dan BRIN ini dihadiri 219 rektor, 44 direktur perguruan tinggi vokasi, enam ketua asosiasi perguruan tinggi, serta 1.596 dosen dan peneliti — total lebih dari 2.600 peserta dari PTN, PTS, hingga perguruan tinggi keagamaan se-Indonesia.

Pada hari pembukaan, Jumat (26/6/2026), Prabowo awalnya berbicara secara terbuka sekitar pukul 16.00 WIB. Namun setelah 30 menit, ia meminta para jurnalis meninggalkan ruangan. “Dengan hormat saya mengundang para wartawan untuk minum kopi di luar, saya yakin Pak Brian sudah siapkan kopi-kopi yang bagus,” ujarnya, sembari menegaskan ingin berbicara dari hati ke hati kepada para guru besar tanpa sorotan media.

Total Prabowo memberikan paparan hampir lima jam — sesi sempat dijeda istirahat menjelang pukul 18.00 WIB sebelum dilanjutkan hingga lewat pukul 21.00 WIB, lengkap dengan presentasi materi di layar besar aula.

Isi Pesan: Putra Putri Terbaik Bangsa Harus Berdarma Bakti

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkap sebagian isi pertemuan tertutup itu. Ia menyebut Prabowo dalam sesi pertama menegaskan bahwa para guru besar, profesor, dekan, dan sivitas akademika adalah putra-putri terbaik bangsa. “Beliau juga menggugah supaya apa yang dihasilkan ilmunya, apa yang dihasilkan inovasi-inovasi, teknologi-teknologi yang dikembangkan itu semua diarahkan untuk kepentingan bangsa dan negara,” kata Prasetyo.

Menteri Pendidikan Tinggi Brian Yuliarto menambahkan, pesan inti Prabowo adalah Indonesia membutuhkan kecepatan pembangunan, kemandirian, dan kesejahteraan bangsa — yang hanya bisa diwujudkan dengan menggerakkan potensi ilmuwan dan teknokrat dari perguruan tinggi.

Cerita Kolonialisme dan Masa Muda Prabowo

Sejumlah rektor yang hadir mengungkap detail tambahan. Wakil Rektor yang dikutip menyebut Prabowo turut membicarakan bagaimana bangsa asing mengambil sumber daya alam Indonesia, mencontohkan kolonialisme Belanda — poin yang juga pernah ia angkat dalam sidang paripurna DPR. Prabowo juga sempat menceritakan kisah hidupnya sejak muda hingga masa dinas militernya, lengkap dengan tayangan singkat di layar.

Tidak ada sesi tanya jawab dalam forum tersebut karena jumlah peserta yang sangat besar.

Hari Kedua: Dialog dengan Para Menteri

Ketua MRPTNI Eduart Wolok menyatakan Presiden memberikan banyak arahan dan informasi kepada rektor dan pimpinan perguruan tinggi. “Tentu ini menjadi hal yang positif untuk bagaimana kita lebih bisa merespon, bagaimana arah kemajuan bangsa ini ke depan,” ujarnya. Pada hari kedua dan ketiga, para rektor dijadwalkan berdialog langsung dengan jajaran menteri Kabinet Merah Putih untuk merumuskan strategi konkret bagi agenda kemandirian ekonomi nasional.

Pengulangan pola tertutup ini bukan yang pertama — Prabowo sebelumnya juga menggelar taklimat tertutup serupa dengan ribuan guru besar dan rektor di Istana Kepresidenan pada Januari 2026, yang saat itu juga sempat dikritik sebagian akademisi sebagai forum satu arah tanpa ruang kritik terbuka.

#SarasehanKSTI2026 #PrabowoRektor #MRPTNI #KemdiktisaintekRI #JICCJakarta #PendidikanTinggiRI #PrabowoTertutup #BrianYuliarto #EduartWolok #KemandirianEkonomi #AkademisiIndonesia #RektorIndonesia #PidatoPrabowo #SivitasAkademika #IndustrialisasiNasional