Seskab Teddy Jawab Dino Patti Djalal dengan Tujuh Capaian Nyata Diplomasi Prabowo Selama 1,5 Tahun

Ekonomi, Fokus, Nasional83 Dilihat

Jakarta – Debat publik soal intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto memasuki babak baru. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya turun langsung merespons kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal, bukan dengan membantah, melainkan dengan menyodorkan tujuh pencapaian konkret yang diklaim sebagai buah dari laku diplomasi aktif presiden selama satu setengah tahun terakhir.

Polemik ini bermula dari pernyataan Dino Patti Djalal yang beredar melalui akun media sosial pribadinya pada Minggu (31/5/2026). Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat itu menyebut bahwa dalam perhitungannya, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri. “Semenjak menjabat menjadi Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri,” kata Dino.

Dino juga menyoroti besarnya biaya yang dikeluarkan untuk setiap kunjungan. “Kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang besar dan bahkan sangat besar. Ini termasuk biaya rombongan tim pendahulu, biaya pesawat, biaya hotel, biaya logistik, biaya konsumsi, biaya protokoler dan pengamanan, biaya uang harian untuk seluruh delegasi dan perangkat pendamping. Satu perjalanan keluar negeri bisa keluar puluhan bahkan ratusan miliar,” ujar Dino.

Dino mengajukan lima saran kepada Presiden, antara lain agar lebih memanfaatkan video conference, memanfaatkan forum internasional untuk bertemu kepala negara lain, merencanakan kunjungan secara lebih transparan dan terukur, lebih banyak menerima kunjungan tamu negara di tanah air, serta mendelegasikan sebagian misi diplomatik teknis kepada Menteri Luar Negeri Sugiono.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan pemerintah terbuka terhadap kritik, namun meminta agar kritik tidak mengaburkan berbagai capaian yang telah dihasilkan. “Ruang untuk setiap masukan tentu kita terima, tetapi jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai,” kata Teddy dalam tayangan resmi Sekretariat Kabinet, Senin (1/6/2026).

Soal biaya, Teddy menegaskan bahwa segala kelebihan biaya di atas yang telah dianggarkan oleh negara ditanggung sepenuhnya oleh Presiden Prabowo secara pribadi. Ia juga menyatakan bahwa jumlah rombongan yang ikut ke luar negeri telah dipangkas hampir separuhnya dibandingkan periode kepemimpinan sebelumnya.

Teddy kemudian memaparkan tujuh hasil nyata yang ia klaim lahir dari diplomasi aktif Presiden Prabowo.

Pertama adalah keanggotaan Indonesia di BRICS. Teddy menyebut langkah ini turut berkontribusi menjamin stabilitas pasokan energi dan pangan nasional di tengah gejolak global, termasuk memastikan harga BBM tidak naik.

Kedua adalah tercapainya perjanjian tarif nol persen dengan Uni Eropa yang mencakup 25 negara anggota. “Perjanjian yang sudah diurus belasan tahun yang lalu, tapi kapan tercapai? Ya zaman presiden Prabowo tepatnya tahun 2025 lalu,” kata Teddy.

Ketiga adalah total realisasi investasi senilai Rp 2.430 triliun selama 1,5 tahun terakhir berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Dari kunjungan ke Korea Selatan dan Jepang saja, Indonesia berhasil mengantongi komitmen investasi sekitar Rp 575 triliun.

Keempat adalah penguatan alutsista dari berbagai sumber. Indonesia kini memiliki persenjataan yang diperoleh dari Perancis, Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris dan sejumlah negara lainnya, sebuah langkah yang mencerminkan kebijakan pertahanan yang tidak tergantung pada satu blok kekuatan tertentu.

Kelima adalah keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji 2025 dan 2026 yang berjalan lancar dengan gangguan minimal. Indonesia bahkan menjadi satu-satunya negara yang memiliki perkampungan haji di Arab Saudi setelah otoritas setempat mengubah regulasinya.

Keenam adalah keterlibatan aktif Indonesia dalam krisis kemanusiaan Palestina. Teddy menyebut Indonesia telah beberapa kali melakukan penerjunan logistik dari udara ke Gaza sebuah operasi yang membutuhkan diplomasi dengan negara-negara yang wilayah udaranya dilewati pesawat. Indonesia juga mengirimkan kapal rumah sakit dan menerima sekitar 100 pelajar Palestina untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi Indonesia.

Ketujuh adalah keberhasilan pemulangan Warga Negara Indonesia yang sempat diamankan Israel di laut bebas, melalui kombinasi diplomasi senyap dan saluran resmi Kementerian Luar Negeri.

“Ingat yang saya sampaikan adalah hasil konkrit nyata satu setengah tahun terakhir dan semua itu adalah diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo lewat berbagai macam cara baik yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan karena yang terpenting bagi kami adalah hasil konkretnya itu yang utama,” tegas Teddy.

Perdebatan antara Dino dan Teddy mencerminkan dua pandangan yang legitimate sekaligus saling melengkapi satu menyoroti efisiensi dan akuntabilitas anggaran, yang lain menekankan bahwa diplomasi kepala negara menghasilkan manfaat nyata yang sulit digantikan oleh panggilan video atau delegasi teknis semata. Pada akhirnya, keduanya membutuhkan jawaban yang tidak bisa diselesaikan hanya dalam perdebatan di media sosial.

#TeddyIndraWijaya #DinoPatiDjalal #PrabowoDiplomasi #CapaianPrabowo #BRICS #InvestasiRp2430T #TarifNolPersen #UniEropa #KunjunganLuarNegeri #DiplomsiAktif #SeskabRI #CapaianEkonomi #HajiIndonesia #Palestina #AlutsistaRI #PrabowoPrestasi #1TahunSetengahPrabowo #DiplomsiIndonesia #KementerianInvestasi #BKPM