Drama di Titik Didih Timur Tengah — Trump Telepon Netanyahu dan Hizbullah dalam Satu Malam demi Selamatkan Perundingan Iran

Fokus, Internasional86 Dilihat

Jakarta – Senin malam waktu Washington menjadi salah satu momen paling intens dalam diplomasi Timur Tengah. Dalam hitungan jam, Presiden Donald Trump melakukan serangkaian kontak diplomatik darurat menekan Netanyahu menghentikan rencana invasi Beirut, melobi Hizbullah melalui perantara untuk berhenti menembak, dan berpacu dengan waktu menyelamatkan perundingan damai dengan Iran yang mendadak terancam kolaps.

Pemicu semua kekacauan ini adalah keputusan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengorder serangan ke pinggiran selatan Beirut kawasan yang dikuasai Hizbullah. Netanyahu bahkan mengumumkan: “Sekarang arahan saya adalah memperdalam dan memperluas cengkeraman kita di tempat-tempat yang berada di bawah kendali Hizbullah.” Ia merayakan pengambilalihan Benteng Beaufort, benteng yang sempat dikuasai Israel lebih dari 25 tahun lalu sebagai “pergeseran dramatis dalam kebijakan yang kami jalankan.”

Langkah Netanyahu itu langsung mengguncang seluruh kerangka diplomatik yang sudah dibangun berbulan-bulan. Iran, yang selama ini menuntut gencatan senjata komprehensif mencakup Lebanon, langsung merespons. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menulis tegas: “Gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat tanpa ambiguitas apapun merupakan gencatan senjata komprehensif di semua lini termasuk Lebanon.”

Iran mengumumkan penghentian perundingan dengan AS menyusul operasi militer terbaru Israel di Lebanon. Hal itu terjadi hanya beberapa hari setelah Trump mengirimkan revisi proposal kesepakatan yang berpotensi memperpanjang gencatan senjata sekaligus membuka kembali Selat Hormuz. Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa tim negosiator Iran telah menghentikan pertukaran pesan dengan AS melalui mediator.

Ancaman Teheran bahkan meningkat lebih jauh. Iran dikabarkan menempatkan dalam agenda mereka “blokade total Selat Hormuz dan aktivasi front-front lain termasuk Selat Bab el-Mandeb”  sebuah ancaman yang jika terlaksana akan menghancurkan rantai pasokan energi global.

Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf mempertegas sikap Tehran: “Blokade angkatan laut dan eskalasi kejahatan perang di Lebanon oleh rezim Zionis adalah bukti nyata ketidakpatuhan AS terhadap gencatan senjata.”

Di balik layar, suasana jauh lebih panas dari yang terlihat publik. Trump menekan Netanyahu dalam sebuah panggilan telepon yang memanas untuk mengurungkan rencana operasi militer di Lebanon. Trump pada beberapa titik menggunakan kata-kata kasar untuk menyampaikan ketidaksetujuannya atas rencana ofensif tersebut.

Tekanan Trump berhasil. Trump kemudian mengumumkan di Truth Social: “Saya melakukan panggilan yang sangat produktif dengan Perdana Menteri Bibi Netanyahu dari Israel dan tidak akan ada pasukan yang pergi ke Beirut dan pasukan yang sedang dalam perjalanan telah dipulangkan.”

Trump tidak berhenti di situ. Melalui jalur tidak langsung, AS juga mengontak Hizbullah. “Melalui perwakilan berkedudukan tinggi saya melakukan panggilan yang sangat baik dengan Hizbullah dan mereka setuju bahwa semua penembakan akan dihentikan bahwa Israel tidak akan menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang Israel,” tulis Trump.

Hizbullah kemudian mengkonfirmasi melalui Kedutaan Besar Lebanon di Washington bahwa kelompok tersebut menyetujui proposal AS untuk gencatan senjata dengan Israel.

Qatar bekerja sama dengan AS selama akhir pekan dan kembali pada Senin untuk mendorong de-eskalasi di Lebanon selatan guna menjaga keberlangsungan gencatan senjata yang masih bersifat nominal.

Dalam praktiknya, situasi di lapangan jauh dari kata tenang. Meski Trump mengumumkan kesepakatan penghentian permusuhan antara Israel dan Hizbullah namun perkembangan di lapangan langsung menimbulkan keraguan atas ketahanan pemahaman tersebut. Pejabat Israel menyatakan serangan ke pinggiran selatan Beirut diperintahkan sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata berulang oleh Hizbullah sementara kelompok itu terus meluncurkan roket ke Israel utara.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz bahkan secara terang-terangan membantah adanya gencatan senjata di Lebanon.

Dalam unggahan terpisah di Truth Social beberapa menit kemudian Trump menyatakan: “Perundingan terus berlanjut dengan cepat dengan Republik Islam Iran. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!”

Namun sikap Trump sebenarnya jauh lebih ambigu dari pernyataan resminya. Sebelum unggahan itu dalam wawancara telepon dengan CNBC Trump berkata: “Saya tidak peduli jika perundingan Iran gagal. Jika sudah berakhir ya sudah.” Ia bahkan mengaku kepada NBC bahwa “perundingan itu mulai sangat membosankan.”

Sementara itu untuk meredam krisis energi akibat perang pemerintahan Trump telah melepas sekitar 58 juta barel minyak atau 14 persen dari cadangan minyak strategis darurat AS guna menstabilkan pasokan. Cadangan tersebut kini tinggal 357 juta barel level terendah sejak Januari 2024.

Di atas semua drama itu, satu pertanyaan menggantung: apakah gencatan senjata yang rapuh ini akan bertahan hingga fajar atau kembali hancur sebelum tinta perjanjian sempat mengering?

#TrumpNetanyahu #HizbullahIsrael #GencatanSenjataLebanon #PerundinganIranAS #KonflikTimurTengah #Beirut #SelasHormuz #IRGCvsAmerika #IranNegotiations #LebanonWar #TruthSocial #HizbullahCeasefire #IsraelLebanon #DiplomsiDarurat #TimurTengah2026 #NegosiasiIran #TrumpDiplomacy #NetanyahuLebanon #BabElMandeb #CeasefireCollapse