Jakarta – Perusahaan intelijen geospasial Tiongkok, MizarVision, mendapat banyak perhatian dunia ketika mereka dituduh membantu Iran melacak pembom siluman B-2 milik AS yang sulit ditangkap di tengah ketegangan di Timur Tengah. Perusahaan ini memicu lebih banyak drama dengan secara terbuka mengolok-olok Washington setelah terkena sanksi dari pemerintah AS.
Pekerjaan MizarVision pada citra satelit dan teknologi intelijen sumber terbuka benar-benar menarik perhatian, terutama dengan wawasan mereka mengenai tindakan militer AS di Timur Tengah. Perusahaan tersebut terjebak dalam skandal penyerahan informasi yang memungkinkan Iran mengawasi pangkalan militer dan jalur penerbangan pembom siluman B-2 Angkatan Udara AS.
Berbagai outlet berita global mengatakan bahwa data MizarVision menunjukkan pesawat tanker KC-135 dan KC-46 sedang mengisi bahan bakar misi pemboman Amerika di dekat Iran. Melihat bagaimana tanker udara bergerak dapat memberi kita petunjuk tentang ke mana tujuan pembom strategis AS untuk misi mereka.
Pemerintah AS meningkatkan sanksi dengan menjatuhkan sanksi terhadap empat kelompok yang mereka anggap membantu militer Iran. Salah satu nama yang masuk dalam daftar adalah Meentropy Technology (Hangzhou) Co., Ltd., yang juga dikenal sebagai MizarVision Teh. Departemen Luar Negeri AS berpendapat bahwa citra dan informasi satelit perusahaan tersebut mungkin membantu Iran menargetkan pasukan AS di Timur Tengah.
MizarVision tidak hanya bersikap tenang ketika sanksi dijatuhkan; mereka benar-benar melakukan sesuatu yang sangat tidak terduga Perusahaan tersebut membagikan iklan pekerjaan di platform sosial Tiongkok dan memasang foto berita sanksi AS. Dalam unggahan tersebut, mereka menyebut tekanan eksternal sebagai “kejutan”, yang sebenarnya disambut dengan senyuman dan semangat untuk terus maju.
Jawaban tersebut mendapat banyak perhatian di media sosial Tiongkok. Sekelompok pengguna internet memuji keputusan perusahaan tersebut sebagai pernyataan berani yang menentang kendali AS atas permainan teknologi dan mata-mata dunia. Beberapa netizen Tiongkok menganggap sanksi AS sebenarnya memberikan dorongan gratis bagi popularitas perusahaan teknologi dalam negeri.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Tiongkok tidak senang dengan sanksi yang diberikan AS terhadap bisnis mereka. Guo Jiakun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, mengatakan bahwa Beijing tidak setuju dengan tindakan apa pun yang tidak didukung oleh hukum internasional dan belum mendapat lampu hijau dari Dewan Keamanan PBB.
Jelas bahwa MizarVision bukanlah perusahaan satelit yang dijalankan oleh pemerintah Tiongkok. Perusahaan ini bergerak di bidang kecerdasan geospasial dengan memanfaatkan citra satelit komersial resolusi tinggi dari berbagai penyedia global, kemudian menggabungkannya dengan analisis berbasis kecerdasan buatan (AI). Temuan dari penelitian ini dibagikan di media sosial dan jaringan intelijen terbuka.
Pakar pertahanan berpendapat bahwa kemajuan-kemajuan baru dalam intelijen sumber terbuka dan satelit komersial mulai mengubah cara peperangan saat ini. Jika sebelumnya informasi strategis hanya dimiliki oleh badan intelijen negara yang besar, kini perusahaan swasta dengan analisis data dan kemampuan AI juga dapat memantau aktivitas militer hampir secara real-time. Menjaga rahasia militer semakin sulit dengan situasi ini.
Kasus MizarVision menyoroti meningkatnya persaingan teknologi antara AS dan Tiongkok selama pertikaian politik internasional yang menegangkan ini. Washington semakin ketat dalam melarang penggunaan teknologi Tiongkok demi alasan keamanan. Di sisi lain, Beijing memandang langkah ini sebagai upaya untuk menghambat pertumbuhan teknologi Tiongkok di panggung dunia.
Dengan meningkatnya ketegangan antara Iran, AS, dan Israel, peran perusahaan swasta dalam memasok intelijen telah menjadi kekhawatiran baru dalam strategi peperangan saat ini. Sekelompok ahli berpendapat bahwa konflik berikutnya tidak hanya mengenai siapa yang memiliki persenjataan terbesar, namun juga siapa yang memiliki kemampuan terbaik dalam hal data, gambar satelit, AI, dan kemampuan menyaring informasi dengan cepat dan tanpa rahasia.






