Yerusalem – Pembicaraan baru untuk menyelesaikan pertikaian Israel-Lebanon dimulai di Washington, dan dunia berupaya meredakan ketegangan di Timur Tengah. Perundingan diplomatik putaran ketiga, yang diarahkan oleh pemerintah AS, dimulai setelah ketegangan perbatasan Israel-Lebanon kembali berkobar akhir-akhir ini.
Delegasi dari kedua negara hadir di sana, dengan fokus pada penghentian serangan lintas batas, menjaga perdamaian di Lebanon selatan, dan berusaha menjaga gencatan senjata yang ditengahi oleh Washington. Pemerintah AS menyebutkan bahwa diskusi pertama dilakukan dalam lingkungan yang baik dan bermanfaat, namun diskusi tersebut belum menghasilkan kesepakatan akhir.
Konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon kembali meningkat sejak Maret 2026, ketika serangan roket dan drone dari wilayah Lebanon dibalas dengan operasi militer skala besar yang dilakukan Israel. Skenario ini menyebabkan hilangnya nyawa secara tragis dan memicu eksodus besar-besaran di Lebanon selatan dan Israel utara. Laporan terbaru dari berbagai organisasi global menunjukkan bahwa lebih dari 2.800 orang telah kehilangan nyawa mereka di Lebanon sejak konflik baru-baru ini terjadi, dan banyak orang lainnya yang terkena dampak langsung dari konflik yang sedang berlangsung.
AS bertujuan untuk menjadi pembawa perdamaian utama untuk menghentikan pertempuran agar tidak berubah menjadi konflik regional yang lebih besar. Tim Presiden Donald Trump berhasil mendapatkan jeda 10 hari dalam melakukan perlawanan pada bulan April 2026. Namun, bentrokan masih terus terjadi meskipun perjanjian penghentian permusuhan untuk sementara telah dilaksanakan.
Dalam perundingan terbaru di Washington, Lebanon menegaskan tiga tuntutan utama, yakni penghentian total serangan Israel, penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan, dan pembebasan tahanan Lebanon yang masih ditahan Israel. Para pejabat Lebanon juga menekankan bahwa perundingan apa pun harus menghormati kemerdekaan Lebanon dan tidak boleh menjadi cara untuk mendorong hubungan politik yang normal melalui kekerasan.
Israel ingin Hizbullah menyerahkan senjata mereka dan agar pemerintah Lebanon mempunyai kendali lebih besar atas kelompok bersenjata di selatan. Pemerintah Israel menganggap kehadiran Hizbullah di dekat perbatasan utara Israel sebagai ancaman keamanan serius yang telah berulang kali memicu konflik.
Meskipun kedua belah pihak duduk di meja yang sama untuk berunding, sejumlah orang yang menonton berpendapat bahwa mencapai perdamaian abadi masih merupakan sebuah perjalanan yang cukup panjang. Hizbullah belum terlibat langsung dalam perundingan di Washington dan masih menolak untuk bernegosiasi langsung dengan Israel. Kelompok tersebut juga memperingatkan bahwa mereka akan terus melakukan perlawanan jika Israel terus melakukan gerakan militernya di Lebanon.
Pembicaraan ini juga merupakan sebuah masalah besar, menandai salah satu perbincangan paling panas antara Israel dan Lebanon dalam jangka waktu yang lama. Sejak perjanjian perdamaian gagal pada tahun 1983, kedua negara praktis saling bertengkar, dan banyak pertikaian besar bermunculan tepat di perbatasan.
Selain membahas mengenai penghentian pertempuran, pertemuan di Washington juga membahas masalah keamanan yang lebih besar di wilayah tersebut, seperti peran Iran dengan Hizbullah dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Pemerintah AS berharap bahwa pembicaraan ini dapat menghasilkan perdamaian di wilayah tersebut dan menghentikan konflik Lebanon agar tidak berubah menjadi perang yang lebih besar dengan lebih banyak negara yang ikut terlibat.












