USAI MAY DAY BERSAMA PRABOWO DI MONAS, RIBUAN BURUH BERSIAP GELAR AKSI LANJUTAN DI JAKARTA

Ekonomi, Fokus, Hukum953 Dilihat

Jakarta — Setelah sempat menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional di kawasan Monumen Nasional bersama Presiden Prabowo Subianto, kelompok buruh kembali bersiap menggelar aksi besar di ibu kota.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal, mengumumkan rencana mobilisasi sekitar 10 ribu buruh untuk turun ke jalan pada Kamis, 7 Mei 2026.

Aksi tersebut disebut sebagai lanjutan perjuangan buruh dalam menyuarakan sejumlah tuntutan yang dinilai belum sepenuhnya terakomodasi.

Peringatan May Day sebelumnya berlangsung meriah di Monas dengan kehadiran ribuan buruh dari berbagai daerah. Dalam acara itu, Presiden Prabowo tampil di hadapan massa pekerja dan menyampaikan sejumlah komitmen terkait kesejahteraan buruh, perlindungan tenaga kerja, hingga penguatan industri nasional.

Suasana acara bahkan sempat mencuri perhatian publik karena berlangsung lebih cair dan penuh hiburan. Sejumlah tokoh buruh dan peserta tampak berjoget bersama di tengah keramaian massa, menciptakan momen yang viral di media sosial.

Namun di balik suasana akrab tersebut, kalangan buruh menegaskan bahwa perjuangan mereka belum selesai.

Said Iqbal menjelaskan bahwa aksi lanjutan dilakukan untuk mengawal sejumlah isu penting yang dianggap masih menjadi persoalan utama pekerja.

Beberapa tuntutan yang kembali disuarakan antara lain:

  1. perlindungan hak pekerja
  2. kepastian upah layak
  3. penghapusan sistem kerja yang dianggap merugikan buruh
  4. jaminan sosial dan kesejahteraan tenaga kerja
  5. perlindungan terhadap ancaman PHK massal

Selain itu, buruh juga disebut akan menyoroti kebijakan ekonomi nasional yang dinilai berdampak langsung terhadap kondisi pekerja di lapangan.

Dengan jumlah massa yang diperkirakan mencapai puluhan ribu orang, aparat keamanan disebut mulai menyiapkan langkah pengamanan dan pengaturan lalu lintas di sejumlah titik strategis Jakarta.

Aksi diperkirakan akan terpusat di kawasan pemerintahan dan lokasi yang berkaitan dengan pengambilan kebijakan nasional.

Situasi ini menarik perhatian karena terjadi hanya beberapa hari setelah momen kedekatan antara pemerintah dan kelompok buruh di acara May Day.

Di satu sisi, kehadiran Presiden Prabowo dalam peringatan Hari Buruh dipandang sebagai sinyal terbukanya komunikasi dengan kalangan pekerja. Namun di sisi lain, rencana aksi besar menunjukkan masih adanya tuntutan yang ingin terus diperjuangkan.

Pengamat menilai dinamika ini mencerminkan hubungan yang kompleks antara pemerintah dan gerakan buruh: ada ruang dialog, tetapi tekanan massa tetap digunakan sebagai alat perjuangan politik dan sosial.

Rencana aksi ribuan buruh pada 7 Mei 2026 menunjukkan bahwa isu ketenagakerjaan masih menjadi perhatian besar di tengah situasi ekonomi nasional dan global yang penuh tekanan.

Meski hubungan pemerintah dan serikat pekerja terlihat lebih terbuka pasca-May Day, kalangan buruh tetap memilih menjaga tekanan publik agar berbagai tuntutan mereka tidak berhenti pada janji semata.