HARI KE-66 KONFLIK IRAN: AS SIAPKAN MISI HORMUZ, KETEGANGAN KIAN MEMANAS

Fokus, Internasional48 Dilihat

Timur Tengah– Memasuki hari ke-66 konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, situasi di kawasan semakin tegang setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana operasi di Selat Hormuz-jalur vital perdagangan energi dunia.

Langkah ini disebut sebagai upaya untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di kawasan tersebut. Sejak konflik memanas dan blokade diberlakukan, ratusan kapal dilaporkan tertahan berhari-hari bahkan berminggu-minggu, dengan kondisi logistik yang semakin menipis.

Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal-kapal yang terjebak agar bisa keluar dari Selat Hormuz dengan aman. Operasi ini disebut sebagai langkah “kemanusiaan”, namun tetap melibatkan kekuatan militer dalam pelaksanaannya.

Rencana tersebut dijalankan di tengah situasi yang belum stabil. Meski sempat ada gencatan senjata sebelumnya, kondisi di lapangan masih penuh ketidakpastian dan rawan konflik lanjutan.

Pemerintah Iran langsung merespons keras rencana tersebut. Mereka dinilai kehadiran militer AS di Selat Hormuz berpotensi melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sempat disepakati sebelumnya.

Pejabat Iran bahkan memperingatkan bahwa setiap intervensi militer asing di kawasan itu bisa memicu serangan balasan. Situasi ini membuat ketegangan kembali meningkat, terutama di jalur laut yang menjadi salah satu titik paling strategis di dunia.

Di tengah rencana operasi tersebut, laporan dari media Iran menyebut adanya insiden serangan terhadap kapal perang Amerika di sekitar wilayah Hormuz, meskipun belum ada konfirmasi independen.

Sementara itu, militer Iran menegaskan akan mempertahankan kendali atas kawasan tersebut dan tidak akan membiarkan kapal asing masuk tanpa izin. Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko bentrokan langsung masih sangat tinggi.

Ketegangan di Selat Hormuz berdampak besar tehadap pasar energi global. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia, sehingga gangguan di kawasan tersebut langsung memicu lonjakan harga energi.

Harga minyak dunia dilaporkan tetap berada di level tinggi, bahkan sempat menembus angka di atas 100 dolar per barel. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan efek lanjutan terhadap inflasi global.

Di sisi lain, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup Iran telah mengajukan proposal perdamaian yang berisi sejumlah tuntutan, termasuk pencabutan sanksi dan pengehnetian aksi militer.

Namun, Trump menunjukkan sikap hati-hati dan belum sepenuhnya menerima proposal tersebut. Ia menyebut masih ada poin-poin yang sulit diterima, terutama terkait isu nuklir Iran.

Memasuki hari ke-66, konflik Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Rencana operasi AS di Selat Hormuz justru berpotensi memperbesar ketegangan, meski dibungkus dengan alasan kemanusiaan.

Di satu sisi, dunia menunggu hasil diplomasi. Namun di sisi lain, setiap langkah militer baru berisiko mempercepat eskalasi konflik yang dampaknya bisa meluas ke seluruh dunia.