Gelombang malam di Pelabuhan Sabang belum reda ketika kabar mengejutkan pecah: 250 ton beras ilegal disegel aparat pada Minggu (23/11/2025). Di saat publik bertanya-tanya dari mana dan untuk apa beras itu masuk, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman langsung tampil ke depan—suaranya tegas, nyaris tanpa jeda: “Aceh itu surplus besar. Tak ada alasan logis untuk impor, apalagi ilegal.”
Sejak laporan awal diterima, Amran mengaku langsung menghubungi Gubernur Aceh. Semua data yang masuk menunjukkan satu hal: Aceh bukan daerah kekurangan beras—bahkan sangat berlimpah. Berdasarkan neraca pangan, Aceh punya ketersediaan 1,35 juta ton, sementara kebutuhannya hanya 667,7 ribu ton. Artinya, provinsi ini menyimpan surplus 871,4 ribu ton.
Bahkan Sabang, daerah kepulauan yang biasanya memiliki keterbatasan lahan, tetap mencatat surplus 970 ton, dengan ketersediaan 5.911 ton dan kebutuhan 4.940 ton. Data itu membuat impor yang masuk bukan hanya janggal, tapi bertentangan dengan logika pengelolaan pangan.
Tak ingin menunggu lama, Amran mengontak Kapolda Aceh, Kabareskrim Polri, Pangdam Iskandar Muda, hingga Menteri Perdagangan. Hasil verifikasi mereka bulat: tidak ada izin impor beras yang diterbitkan pemerintah pusat.
“Beras kita banyak. Aceh surplus. Sabang juga surplus. Mengapa harus impor? Ini tidak masuk akal,” tegas Amran. Ia menyebut upaya menyelundupkan beras saat petani memasuki masa tanam adalah tindakan yang “mendholimi petani”.
Di level nasional, kondisi pangan Indonesia disebut berada pada titik terkuat. Data BPS memproyeksikan produksi beras mencapai 34,7 juta ton, sementara stok Bulog sudah menembus 3,8 juta ton—tertinggi dalam sejarah. Dengan cadangan sedemikian besar, Amran menilai pemasukan beras ilegal bukan karena kebutuhan, tetapi karena kepentingan tertentu yang merugikan petani dan merusak stabilitas harga.
Kejanggalan lain ikut terungkap. Risalah rapat koordinasi 14 November mencatat bahwa permohonan impor sudah ditolak, namun izin dari negara asal justru lebih dulu terbit—indikasi kuat adanya manuver di luar prosedur resmi.
Pemerintah kini memperluas penyelidikan, termasuk kemungkinan kasus serupa di Batam dan wilayah strategis lainnya. Amran memastikan negara tidak akan tinggal diam.
“Ini peringatan keras. Jangan pernah coba-coba memasukkan beras ilegal ketika kita sedang berada di jalur swasembada,” ujarnya. “Negara wajib hadir melindungi petani.”
#BerasIlegal #Sabang #AcehSurplus #AndiAmranSulaiman #Bapanas #PanganNasional #ImporBeras #PetaniIndonesia #SwasembadaPangan #BreakingNews












