Deru kendaraan berhenti di depan sebuah kios kecil di Desa Pagentan, Singosari, Malang. Pagi itu, Sabtu (22/11/2025), suasana yang biasanya lengang tiba-tiba berubah riuh ketika Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono—yang akrab disapa Mas Dar—muncul tanpa pemberitahuan. Sidak dimulai, dan para petani yang sedang antre pupuk sontak menegakkan badan.
Di dalam kios Toko Tumapel Jaya, Mas Dar langsung mendekati para petani yang baru saja menimang karung pupuk. Tidak ada jarak. Tidak ada sambutan resmi. Hanya obrolan hangat tentang harga pupuk, pelayanan kios, dan bagaimana kebijakan pemerintah benar-benar menyentuh tanah tempat padi tumbuh.
Seorang petani yang masih berdebu lumpur sawah membuka obrolan dengan suara lantang.
“Sekarang sembilan puluh ribu, Pak. Sudah sesuai HET baru. Alhamdulillah—terima kasih Pak Prabowo,” ujarnya sambil tersenyum lega. Harga turun, biaya produksi meringan, dan hidup terasa sedikit lebih mudah.
Para petani lainnya ikut menimpali. Mereka mengakui pembelian pupuk kini jauh lebih praktis. Mau ambil sendiri bisa. Mau diantar juga bisa—tinggal tambah ongkos kirim seadanya. Yang penting harga turun dan tidak lagi mencekik seperti sebelumnya. “Yang jelas sekarang lebih mudah, Pak,” ujar salah satunya.
Mas Dar mencatat semua keluhan dan pujian itu dengan kepala mengangguk pelan. Sebagai anak petani asal Grobogan, ia mengerti betul bahwa selisih harga sekecil apa pun bisa menentukan untung-rugi satu musim tanam. Karena itu, ia menegaskan bahwa penurunan harga pupuk mulai 22 Oktober sudah resmi berlaku dan wajib diterapkan seluruh kios tanpa ragu.
“Kompensasinya pemerintah yang urus. Kalian jangan khawatir. Semua aman,” katanya tegas.
Ia juga mengecek langsung stok di gudang kecil belakang kios—sekadar memastikan tak ada permainan distribusi. Menurutnya, ketersediaan pupuk sudah lancar dan kelompok tani tidak boleh terhambat dalam pembelian. “Kelompok-kelompok tani aman. Yang penting harga sesuai aturan,” ujar Mas Dar.
Pemilik kios pun membenarkan. Ia memastikan harga di tempatnya sudah menyesuaikan HET baru, baik untuk petani yang ambil sendiri maupun yang meminta layanan antar. “Semuanya lancar, Pak. Kami ikut aturan,” katanya.
Sidak tersebut menjadi semacam tes cepat: apakah kebijakan penurunan harga pupuk benar-benar menyentuh petani kecil? Jawabannya—setidaknya di Desa Pagentan—adalah iya. Para petani pulang sambil menggenggam karung pupuk dengan wajah lebih lega.
Di ujung kunjungan, sebelum kembali menyusuri jalan desa, Mas Dar lagi-lagi menegaskan bahwa pemerintah hadir untuk memastikan petani tak berjalan sendiri.
“Semua dibereskan. Pokoknya aman,” tutupnya, sambil menepuk pundak seorang petani yang tersenyum bangga.
#WamentanSudaryono #HargaPupukTurun #PupukMurah #Kementan #PetaniIndonesia #BreakingNews #Malang #HET #PertanianIndonesia












