PREMI RP700 JUTA UNTUK NAPI!

Fokus, Hukum447 Dilihat

 

Pagi Jakarta belum sepenuhnya benderang ketika halaman Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) dipenuhi barisan rapi. Di balik suasana formal Upacara Hari Bakti Kemenimipas Ke-1, terselip kabar yang tak sekadar menggugah, tetapi membuka mata: program ketahanan pangan yang melibatkan narapidana kini menghasilkan premi mencapai Rp700,15 juta.

Angka itu bukan sekadar statistik. Ia lahir dari keringat 10.892 warga binaan yang bekerja di 76 klaster ketahanan pangan, memanfaatkan 528 hektare lahan pertanian dan perikanan. Dari balik tembok yang selama ini membatasi ruang gerak mereka, tumbuh harapan baru yang ditanam melalui kegiatan yang produktif.

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, membacakan amanat dengan nada penuh keyakinan. Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar menjaga ketahanan pangan, tetapi juga membuka jalan pembinaan yang sesungguhnya—pembinaan yang memberikan nilai, arah, dan masa depan.

“Upaya ketahanan pangan ini bukan hanya soal pemenuhan pangan. Ini adalah media pembinaan yang produktif dan berkelanjutan, bermanfaat ketika warga binaan kembali ke masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (19/11/2025).

Premi yang diterima warga binaan bukan pemberian belas kasihan. Ia merupakan hak berdasarkan undang-undang—bentuk apresiasi atas kerja mereka sekaligus penopang kebutuhan pribadi selama menjalani masa hukuman. Dana ini langsung ditransfer ke rekening masing-masing napi, menjadi tabungan sekaligus modal kecil ketika kembali ke dunia bebas.

Di balik program ini, terdapat transformasi besar di tubuh pemasyarakatan. Para warga binaan diberdayakan melalui kegiatan pertanian, perkebunan, hortikultura, hingga perikanan. Dari menanam bibit hingga memanen hasil bumi, mereka dibekali keterampilan yang bisa menjadi ladang nafkah setelah kembali ke masyarakat.

Dan ini bukan proyek sehari jadi. Sebelumnya, pada 9 September 2025, Agus sudah mengumumkan penanaman 360.700 bibit kelapa secara serentak di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, Kemenimipas juga mengalirkan bantuan ribuan bibit ke masyarakat—27.000 di Blora, 5.000 di Palembang, dan 5.000 di Tangerang. Sebuah upaya massif untuk memperkuat ekosistem agrikultur berbasis inklusi.

Dalam rangka membangun pembinaan yang lebih merata dan berkualitas, Kemenimipas kini memiliki 205 lembaga latihan kerja di berbagai unit pemasyarakatan. Dari Sabang hingga Merauke, dari lapas besar hingga rutan kecil, seluruhnya digerakkan menuju satu tujuan: mencetak warga binaan yang bukan hanya berubah, tetapi juga berdaya.

Di tengah berbagai tantangan pemasyarakatan, program ini menghadirkan wajah baru yang lebih manusiawi. Di balik angka premi yang besar itu, ada kisah tentang kesempatan kedua—tentang tanah, bibit, kerja, dan harapan yang tumbuh nyaris tanpa suara.

#Kemenimipas #AgusAndrianto #KetahananPangan #WargaBinaan #ProgramPemasyarakatan #Indonesia #HariBaktiKemenimipas #ReintegrasiSosial #BibitKelapa #LapasIndonesia