Ottawa belum pernah sunyi seperti ini. Begitu lampu panggung meredup dan denting gamelan dari speaker menyelinap ke udara musim gugur, ratusan pasang mata di World Multicultural Festival 2025 serempak terhenti. Para pengunjung—yang semula lalu-lalang dari stan ke stan—mendadak berkumpul di depan panggung utama. Mereka seakan menunggu sesuatu yang tidak mereka mengerti, tetapi pasti ingin mereka lihat.
Dan benar saja. Dalam balutan busana Bali yang gemerlap, tiga penari melangkah masuk. Gerakan mata yang tegas, jemari yang lentur, dan senyum yang sulit dibaca seperti membawa potongan pulau dewata ke tengah ibu kota Kanada. Dalam hitungan detik, tari Pendet menghipnotis Ottawa.
Jasmine Daoust—salah satu penari, warga Kanada asli—tampak paling mencuri perhatian. Bukan hanya karena gerakannya nyaris sempurna, tetapi karena kisahnya. Sejak kecil ia jatuh cinta pada tarian Bali, dan malam itu, mimpinya terbayar. “Bisa menari di depan publik Kanada… rasanya seperti pulang ke rumah yang tak pernah saya tinggali,” katanya, matanya berbinar setelah turun panggung.
Pertunjukan itu bukan sekadar bagian dari acara. Itu adalah pernyataan: bahwa budaya Indonesia hidup, melintas batas, dan tumbuh bahkan di tangan diaspora serta anak-anak yang tak pernah menetap di Nusantara.
Tepuk tangan belum juga reda ketika suara gemerincing angklung memecah ruangan. Anggota Indonesian Canadian Congress (ICC) dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Ottawa tampil membawakan Mama Mia dan Super Trouper—dua lagu ABBA yang membuat orang Kanada spontan ikut bergoyang kecil. Harmoni angklung itu terdengar seperti jembatan yang menyambungkan timur dan barat tanpa satu pun kata.
Di balik panggung, Presiden ICC, Gita Nurlaila, mengaku latihan mereka berlangsung intens selama dua hingga tiga bulan. “Dukungan KBRI luar biasa. Kami ingin memastikan setiap nada angklung benar-benar sampai ke hati penonton,” ujarnya.
Dan sampai lah ia. Usai pertunjukan, para penampil dikerumuni pengunjung yang penasaran. Banyak yang ingin mencoba menggetarkan angklung untuk pertama kalinya. Duta Besar RI untuk Kanada, Muhsin Syihab, menyebut momen itu sebagai bentuk paling halus dari kekuatan budaya Indonesia. “Inilah soft power kita,” katanya.
Di festival yang diikuti lebih dari 70 negara itu, Indonesia tidak sekadar tampil. Ia menyampaikan pesan: keberagaman tidak cukup dipamerkan, ia harus dirayakan. Upaya KBRI menggandeng diaspora, komunitas lokal, hingga generasi kedua Indonesia di Kanada membuahkan sebuah panggung kecil yang gemerlap—tapi gema budayanya memantul jauh lebih besar.
Ottawa mungkin hanya menyaksikan satu malam pertunjukan. Tapi bagi Indonesia, itu adalah langkah panjang diplomasi budaya yang terus menemukan bentuknya.
#IndonesiaDiKanada #TariPendet #Angklung #DiplomasiBudaya #WMF2025 #KBRIOttawa #BudayaIndonesia #SoftPowerIndonesia #FestivalBudaya #OttawaEvents #KomunitasIndonesia #ABBAAngklung






