KOPI INDONESIA GEGERKAN SABAH — MANUVER MENDADAK KJRI DI JANTUNG INDUSTRI TENOM

 

Aroma kopi menyeruak tajam begitu rombongan KJRI Kota Kinabalu memasuki Tenom. Kota kecil yang dikepung perbukitan itu tak pernah benar-benar tidur; mesin sangrai terus berdentum, dan wangi biji kopi yang digoreng seolah menyambut siapa pun yang datang. Di sanalah, pada Jumat sore yang lembap, sebuah langkah diplomasi ekonomi yang tak biasa terjadi—senyap, cepat, tapi berpotensi menggeser peta perdagangan kopi di Malaysia Timur.

Konjen RI Noorman Effendi memimpin langsung kunjungan kerja itu. Tenom, yang selama puluhan tahun menjadi nadi produksi kopi Sabah, dipilih bukan tanpa alasan. Industri kopi di kota itu tengah bergerak dinamis, dan Indonesia—dengan Gayo, Mandailing, Toraja, hingga Bali Kintamani—melihat kesempatan untuk menanamkan pengaruh lebih dalam di pasar yang terus tumbuh.

Pertemuan berlangsung di sebuah ruang rapat sederhana milik Chinese Chamber of Commerce Tenom. Di sana hadir Datuk Yong Chung Ngee bersama para pengusaha roastery, importir, hingga wakil dari pabrik pengolahan kopi terbesar di Sabah. Obrolan mengalir hangat, seperti dua cangkir kopi yang baru dituangkan: membahas peluang, menimbang risiko, dan mencari titik temu yang menguntungkan kedua pihak.

Salah satu pembahasan paling intens adalah rencana peningkatan pasokan green beans dari Indonesia. Selama ini, banyak produsen besar di Tenom sudah menggunakan biji kopi asal Indonesia, namun permintaan mereka terus naik. Bahkan muncul gagasan baru: memasarkan kopi olahan Indonesia dengan merek lokal Sabah. Sebuah kolaborasi rasa—cita rasa Nusantara yang diracik mengikuti selera warga Sabah.

“Kopi Indonesia sudah lama dihormati dunia. Jadi, ini saat yang tepat untuk memperkuat pijakan kita di Tenom, pusat industri kopi Sabah,” ujar Noorman, sambil menekankan bahwa Indonesia tak sekadar ingin menjual produk, tapi membangun jalinan kerja sama jangka panjang.

KJRI memastikan siap menjadi jembatan antara pelaku usaha Indonesia dan industri lokal Sabah. Pasar Sabah dinilai memiliki ruang yang masih lapang bagi karakter kopi Nusantara, terutama untuk varian yang kompleks dan beraroma kuat. Industri kopi Sabah sendiri sedang berlari cepat, mencari inovasi baru untuk bertahan dari kompetisi global yang semakin sengit.

Tak berhenti pada ruang pertemuan, delegasi KJRI juga mengunjungi pabrik kopi Yit Foh dan Tong Fah—dua raksasa kopi Tenom yang aroma sangrainya sudah terkenal hingga Semenanjung Malaysia. Di sana, mereka meninjau langsung bagaimana biji kopi Indonesia diolah, disangrai, dan dikirim ke berbagai wilayah Malaysia.

Kunjungan itu memberikan gambaran jelas tentang kebutuhan industri kopi Sabah, mulai dari kualitas biji, volume pasokan, hingga peluang pengembangan produk premium. Semua itu dibawa pulang sebagai catatan penting untuk disinergikan dengan kekuatan produksi kopi Indonesia.

Lebih jauh, kerja sama dengan Sabah tak hanya menyangkut bisnis dagang. Ada peluang lain yang terbuka: wisata kopi, pelatihan barista, inovasi pascapanen, hingga pengembangan industri kreatif berbasis kopi. Sebuah ekosistem yang, bila dirangkai dengan benar, bisa membawa manfaat ekonomi besar bagi Indonesia dan Sabah sekaligus.

Kolaborasi yang dimulai dari sebuah perjalanan singkat ini mungkin menjadi fondasi baru bagi diplomasi kopi Indonesia. Sebab di balik secangkir kopi yang harum, selalu ada cerita panjang tentang kerja sama, strategi, dan hasrat untuk menembus pasar yang lebih luas.

#KopiIndonesia #Sabah #Tenom #DiplomasiEkonomi #KJRIKotaKinabalu #IndonesianCoffee #MalaysiaTimur #GreenBeansIndonesia #EksporKopi #BeritaTerkini

News Feed