NAZRIEL ALFARO: CAHAYA TERAKHIR DI DOHA

Fokus, Olahraga662 Dilihat

 

Di tengah malam Doha yang hangat dan berangin, ketika lampu-lampu Aspire Zone meredup perlahan setelah peluit panjang dibunyikan, satu nama masih menggantung di udara: Nazriel Alfaro Syahdan. Gelandang mungil milik Persib Bandung itu berjalan pelan ke tepi lapangan, menatap tribun yang mulai kosong—seolah ingin menghafal tiap detik dari perjalanan panjang yang membawanya sampai ke panggung terbesar usia muda itu.

FIFA baru saja menyerahkan penghargaan “Player of the Match” kepadanya. Di laga pamungkas Grup H Piala Dunia U17 2025, Senin (10/11/2025), Indonesia menggulung Honduras 2-1. Dua gol dari Evandra Florasta dan Fadly Alberto memang memastikan kemenangan, tetapi Nazriel—dengan determinasi yang tak pernah surut—menjadi poros yang menjaga denyut permainan Garuda Muda tetap stabil sepanjang 90 menit.

Dalam tiga pertandingan penyisihan melawan Zambia, Brasil, dan Honduras, nomor punggung 8 itu nyaris tak pernah diganti. 230 menit ia berlari, mengalirkan bola, dan berjuang tanpa jeda. Konsistensi itu akhirnya membuat namanya disorot dunia.

Namun ada ironi.
Kemenangan manis itu tak cukup untuk membawa Indonesia melangkah ke fase gugur. Tiga poin yang terkumpul tersendat di luar delapan peringkat ketiga terbaik. Garuda Muda terhenti. Lampu stadion padam lebih cepat dari harapan.

Meski begitu, Nazriel tidak menunduk. Ia tersenyum kecil saat berbicara kepada media Persib, Rabu (12/11/2025). Ada ketenangan yang hanya dimiliki pemain yang telah melalui badai panjang.

“Terima kasih banyak kepada tim, staf pelatih, dan seluruh ofisial yang sudah memberikan kepercayaan sejak awal hingga event ini selesai,” ujarnya. Kalimat yang sederhana, tapi terasa seperti rangkuman dari sebuah perjalanan spiritual seorang remaja yang tiba-tiba disorot oleh dunia.

Jejak Nazriel bersama Timnas U17 bermula dari pemusatan latihan Piala Asia 2025 di Jeddah, Arab Saudi, tahun lalu. Sejak hari pertama, ia bukan pemain paling mencolok. Tapi ia pemain yang selalu menjawab kepercayaan—jenis pemain yang jarang berbicara, namun pekerjaannya selalu terdengar keras di lapangan.

“Perjalanan yang panjang dan tidak mudah telah kita lalui,” katanya. “Dua tahun bersama, banyak cerita, pelajaran, pengalaman baru. Bangga bisa bersama tim sampai titik ini. Semoga semua yang saya dapatkan bisa membuat saya lebih baik ke depan.”

Malam itu di Doha, Indonesia memang pulang lebih cepat. Namun dari lapangan yang perlahan sepi itu, seorang anak berusia 17 tahun berjalan dengan kepala tegak—membawa penghargaan kecil yang bisa menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Mungkin eliminasi ini menyakitkan. Tapi sinar Nazriel Alfaro justru tampak paling terang ketika gelap mulai turun.

#PialaDuniaU17 #TimnasU17 #NazrielAlfaro #GarudaMuda #BeritaBola #SepakBolaIndonesia #PersibBandung

SUMBER: RRI